Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    BI Pastikan Kondisi Kaltim Tetap Terkendali, Inflasi Juni 2026 Capai 3,20 Persen

    Juli 5, 2026

    Kian Terhimpit Ritel Modern, Regulasi Baru Pasar Tradisional Samarinda Rampung 3 Bulan Lagi

    Juli 5, 2026

    Miris, Anggaran Pembinaan Atlet Samarinda Seret Hanya Dialokasikan Rp100 Juta

    Juli 5, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Samarinda»Malam Imlek Tanpa Sapu dan Pintu Tertutup, Menjaga Rezeki dalam Tradisi Keluarga Gus Sumanti
    Samarinda

    Malam Imlek Tanpa Sapu dan Pintu Tertutup, Menjaga Rezeki dalam Tradisi Keluarga Gus Sumanti

    AbdiBy AbdiFebruari 17, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Gus Sumanti saat merayakan Tahun Baru Imlek di kediamannya (Insitekaltim/Abdi)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Pantangan menyapu rumah hingga ritual mandi air kembang menjadi bagian dari tradisi turun-temurun yang masih dijaga sebagian keluarga keturunan Tionghoa setiap perayaan Tahun Baru Imlek. Di Samarinda, tradisi tersebut hidup dan dijalankan dengan penuh makna di kediaman Gus Sumanti.

    Pada perayaan Imlek 2026, Gus Sumanti membagikan kisah bagaimana nilai-nilai leluhur tetap dijaga, meski kehidupan modern dan perbedaan keyakinan menjadi bagian dari keseharian keluarganya.

    Bagi keluarga Sumanti, yang akrab disapa Evi, Imlek bukan sekadar pergantian kalender lunar. Momentum ini dimaknai sebagai waktu sakral untuk menjaga keberuntungan atau hoki, sekaligus menghormati warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi.

    Menariknya, meski secara pribadi memeluk agama Kristen, penghormatan Gus Sumanti terhadap adat istiadat Tionghoa tidak pernah luntur. Ia menilai budaya sebagai identitas bersama yang melampaui sekat-sekat agama.

    Salah satu tradisi paling kuat dilakukan pada malam pergantian tahun. Saat keluarga besar berkumpul untuk makan malam, pintu rumah ditutup rapat dan tidak ada tamu yang diperkenankan masuk.

    “Kalau kita lagi makan, pintu kita tutup. Tamu datang pun tidak kita buka. Karena kalau dibuka, itu sama saja rezeki kita diambil orang,” ujar Gus Sumanti saat ditemui, Selasa, 17 Februari 2026.

    Tradisi tersebut melambangkan keyakinan bahwa rezeki yang sedang dinikmati keluarga harus benar-benar terjaga di dalam rumah, tanpa terpecah oleh kehadiran orang luar pada momen paling sakral.

    Filosofi menjaga rezeki berlanjut hingga urusan kebersihan. Berbeda dari hari biasa, pada hari pertama Imlek keluarga dilarang menyapu lantai atau membuang sampah. Menyapu dipercaya sebagai simbol membuang keberuntungan yang baru saja datang.

    “Setelah makan pun tidak boleh nyapu. Sampai besok sekitar jam 10 baru boleh. Sampah juga tidak boleh dibuang. Rezekinya jangan sampai hilang,” jelasnya.

    Kewaspadaan juga diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Peralatan makan yang terjatuh atau pecah diyakini sebagai pertanda kurang baik. Bahkan, butiran nasi yang jatuh harus diambil dengan tangan, bukan disapu.

    Selain itu, Gus Sumanti menjalani ritual mandi air kembang sebagai bagian dari penutup tahun lama. Kembang direndam di dalam bak mandi dan digunakan untuk membersihkan diri, sebagai simbol meluruhkan nasib buruk tahun sebelumnya.

    “Mandi pakai air kembang. Kita beli kembang renteng, taruh di bak mandi. Besoknya baru dibuang,” tuturnya.

    Menariknya, seluruh tradisi ini dijalankan di tengah keluarga yang sangat majemuk. Dalam satu keluarga, terdapat pemeluk Kristen, Konghucu, hingga Islam. Namun saat Imlek tiba, perbedaan keyakinan melebur dalam satu sikap yang sama: menghormati leluhur dan adat istiadat.

    Di akhir perbincangan, Gus Sumanti menilai perayaan Imlek di Samarinda dengan barongsai dan naga yang tampil di kelenteng memiliki semangat serupa dengan hari raya agama lain. Ia menyamakan Imlek sebagai momentum pemersatu, layaknya Idulfitri bagi umat Islam.

    “Kita ini Bhinneka Tunggal Ika. Bermacam-macam tapi tetap satu. Adat itu tidak pernah kita lupakan. Imlek ini seperti Lebaran bagi orang Tionghoa,” tutupnya.

    Kisah dari kediaman Gus Sumanti menegaskan bahwa di Kota Tepian, tradisi bukan sekadar ritual, melainkan cara menjaga akar budaya sekaligus merawat persaudaraan di tengah perbedaan.

     

    Gus Sumanti Imlek Imlek 2026 Tahun Baru Imlek
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Abdi

    Related Posts

    Satpol PP Akui Tak Bisa Bergerak Sendiri, Dukungan Polresta Dinilai Krusial Saat Penegakan Perda

    Juli 1, 2026

    Hari Bhayangkara ke-80, Polresta Samarinda Komitmen Tingkatkan Profesionalisme

    Juli 1, 2026

    PT PSB Persilakan Sengketa Ketenagakerjaan hingga Dugaan Pelanggaran Diuji di Pengadilan

    Juni 30, 2026

    Blasting PT PSB Disorot, Warga Keluhkan Debu Ganggu Kesehatan Anak hingga Air Hujan

    Juni 29, 2026

    Haraku Ramen Hadir Ramaikan Kuliner di Big Mall Samarinda

    Juni 26, 2026

    Kearifan Dayak Kenyah Jadi Pelajaran Menjaga Alam dan Identitas Samarinda

    Juni 25, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    BI Pastikan Kondisi Kaltim Tetap Terkendali, Inflasi Juni 2026 Capai 3,20 Persen

    Nur AjijahJuli 5, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Meski dihadapkan pada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan kenaikan…

    Kian Terhimpit Ritel Modern, Regulasi Baru Pasar Tradisional Samarinda Rampung 3 Bulan Lagi

    Juli 5, 2026

    Miris, Anggaran Pembinaan Atlet Samarinda Seret Hanya Dialokasikan Rp100 Juta

    Juli 5, 2026

    Produktivitas Padi Kaltim Ditarget Naik Jadi 7 Ton per Hektare Lewat PMAAS

    Juli 5, 2026

    Pendidikan Masih Jadi Korban, Pengamat Kritik Prioritas Anggaran Pemerintah

    Juli 5, 2026
    1 2 3 … 3,192 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.