Insitekaltim, Samarinda – Produksi jagung pipilan kering di Kalimantan Timur (Kaltim) diperkirakan merosot sepanjang 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat produksi jagung hanya mencapai 7,07 ribu ton, turun 31,29 persen atau sekitar 3,22 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan produksi tersebut berjalan seiring dengan menyusutnya luas panen. Sepanjang 2026, luas panen jagung di Kaltim diperkirakan hanya 1.260 hektare, atau berkurang 40,15 persen dibandingkan total luas panen pada 2025.
Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai mengatakan, penyusutan luas panen terjadi pada seluruh periode pengamatan atau subround sepanjang tahun ini.
Pada Subround I 2026, luas panen tercatat 440 hektare atau turun 32,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kemudian, Subround II mencapai 510 hektare, turun 39,76 persen. Sementara Subround III diperkirakan hanya 310 hektare atau berkurang 49,22 persen.
“Penurunan juga terjadi pada produksi jagung pipilan kering (JPK) dengan kadar air 14 persen,” kata Mas’ud dalam keterangan resminya yang dikutip Rabu, 4 November 2026.
Penurunan itu terlihat dari produksi pada setiap periode panen. Pada Subround I 2026, produksi diperkirakan sebesar 2,43 ribu ton atau turun 29 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
“Pada Subround I 2026, produksi diperkirakan mencapai 2,43 ribu ton atau turun 29 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025,” ujarnya.
Selanjutnya, produksi pada Subround II tercatat 2,92 ribu ton atau turun 28,82 persen. Adapun pada Subround III, produksi diperkirakan mencapai 1,72 ribu ton, lebih rendah 37,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Jika dibandingkan secara tahunan, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada 2026 diperkirakan sebesar 7,07 ribu ton. Jumlah itu turun dari produksi 2025 yang mencapai 10,29 ribu ton.
BPS juga mencatat produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 28 persen (JPK-KA28%) sepanjang Januari hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai 9,57 ribu ton. Angka tersebut turun sekitar 4,36 ribu ton atau 31,29 persen dibandingkan produksi tahun sebelumnya sebesar 13,92 ribu ton.
Produksi JPK-KA28% tertinggi pada 2026 diperkirakan terjadi pada September, yakni 1,64 ribu ton. Namun, angka tersebut masih di bawah produksi September 2025 yang mencapai 1,87 ribu ton.

