Insitekaltim, Paser – Permainan gasing yang dahulu menjadi bagian dari keseharian anak-anak di Kabupaten Paser kini semakin jarang dimainkan. Di tengah berkurangnya minat generasi muda terhadap permainan tradisional, seorang guru di SMAN 1 Long Kali memilih mengambil peran agar warisan budaya tersebut tidak benar-benar hilang.

Sidik Abdul Manaf, guru berusia 30 tahun itu mulai merakit gasing secara mandiri menggunakan peralatan sederhana di rumahnya. Alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta jurusan Seni Kriya tersebut mengaku terdorong setelah melihat semakin sedikit anak-anak yang mengenal gasing, bahkan tidak mengetahui cara memainkannya.
“Anak-anak sekarang sudah banyak yang tidak mengenal gasing, bahkan tidak banyak yang tahu lagi cara memainkannya. Saya juga melihat mulai ada lagi lomba-lomba permainan tradisional daerah, jadi ini bisa menjadi peluang untuk mengenalkan kembali gasing,” ujarnya di Paser, Rabu, 8 Juli 2026.
Bagi Sidik, membuat gasing bukan sekadar menghasilkan produk kerajinan. Ia ingin menghadirkan kembali permainan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Paser yang mulai tergerus perkembangan zaman.
Karena itu, ia tetap mempertahankan bentuk khas gasing Kalimantan. Sentuhan yang ia berikan hanya pada motif agar tampil lebih menarik tanpa menghilangkan ciri khasnya.
“Kalau bentuknya mengikuti bentuk yang ada di Kalimantan. Perbedaannya hanya terdapat pada motif yang ada di gasingnya saja,” terangnya.
Upaya tersebut mulai mendapat respons positif. Menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Guru yang tahun ini digelar di Long Kali, sejumlah sekolah dari berbagai kecamatan di Kabupaten Paser mulai memesan gasing buatannya untuk digunakan dalam perlombaan.
“Untuk sementara baru dari sekolah-sekolah. Karena Long Kali menjadi tuan rumah Porseni, beberapa sekolah dari berbagai kecamatan di Paser memesan gasing kepada saya,” ungkapnya.
Setiap gasing dijual dengan harga antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Harga tersebut dipengaruhi tingkat kesulitan pembuatan, terutama pada bagian roller di bawah gasing. Sementara bahan utamanya menggunakan kayu ulin yang dinilai memiliki bobot ideal untuk menghasilkan putaran yang stabil.
“Kalau kayunya memakai ulin karena yang paling mudah didapat di sini dan bobotnya sesuai dengan kriteria gasing,” jelasnya.
Saat ini pemasaran masih dilakukan secara mandiri melalui media sosial seperti WhatsApp dan Instagram. Ke depan, ia berencana memperluas penjualan melalui platform daring agar jangkauannya semakin luas.
Lebih jauh, Sidik berharap upaya kecil yang ia lakukan dapat memancing ketertarikan generasi muda terhadap permainan tradisional. Menurutnya, gasing bukan sekadar permainan masa lalu, melainkan juga telah berkembang menjadi cabang yang dipertandingkan di sejumlah daerah.
Ia pun berencana menginisiasi kegiatan yang menghadirkan berbagai permainan tradisional, seperti gasing, sumpit, ketapel dan belogo. Harapannya, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk kembali mengenal sekaligus melestarikan budaya lokal yang mulai ditinggalkan.
“Mudah-mudahan banyak generasi muda yang mau mengenal dan bermain gasing. Ke depan saya ingin membuat kegiatan permainan tradisional supaya minat anak-anak tumbuh lagi dan budaya ini tetap terjaga,” pungkasnya.

