Insitekaltim, Samarinda – Program revitalisasi 102 satuan pendidikan yang digelontorkan pemerintah pusat ke Kalimantan Timur (Kaltim) belum sepenuhnya menjawab persoalan akses pendidikan di daerah.
Di tengah pembangunan fasilitas sekolah, Pemerintah Provinsi Kaltim masih menghadapi kebutuhan penambahan ruang belajar dan pembangunan sekolah baru.
PLT Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim Armin mengakui, kebutuhan sekolah baru masih cukup besar terutama di wilayah yang mengalami pertumbuhan penduduk dan menjadi kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Selain revitalisasi sekolah yang sedang berjalan, Kaltim masih membutuhkan sekitar 15 sekolah baru untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dalam beberapa tahun ke depan.
“Tahun ini kita dapat tiga sekolah baru dari pemerintah pusat. Tapi kebutuhan kita masih banyak. Perkiraan kami masih ada sekitar 15 sekolah baru yang perlu dibangun di Kalimantan Timur,” kata Armin di DPRD Kaltim, Senin, 15 Juni 2026.
Tiga sekolah yang dimaksud meliputi SMA Negeri 8 Balikpapan, SMA Negeri 3 Loa Kulu, dan SMA Muhammadiyah Boarding School di Sepaku yang pembangunannya didukung anggaran pemerintah pusat.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di Kaltim tidak hanya berkaitan dengan kualitas bangunan sekolah, tetapi juga keterbatasan daya tampung.
Isu ini beberapa kali mencuat setiap pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), ketika ribuan lulusan SMP bersaing memperebutkan kursi di SMA dan SMK negeri.
Di sisi lain, Disdikbud Kaltim mulai mendorong penguatan pendidikan nonformal melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi alternatif bagi anak-anak yang tidak dapat mengikuti pendidikan reguler karena faktor ekonomi maupun pekerjaan.
“SKB ini penting karena ada anak-anak yang harus bekerja atau membantu orang tua sehingga tidak bisa mengikuti sekolah formal secara penuh,” ujar Armin.
Selain SKB, pemerintah juga mulai memperluas program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Melalui skema tersebut, siswa dapat mengikuti proses belajar dari rumah dengan pendampingan sekolah yang telah ditunjuk.
Meski demikian, pembangunan sekolah baru tetap menjadi prioritas karena kebutuhan ruang belajar diperkirakan terus meningkat seiring perkembangan wilayah dan pertumbuhan jumlah penduduk di Kaltim.

