Insitekaltim, Samarinda – Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengaku, ketergantungan kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) terhadap pasokan pangan dari luar daerah masih cukup tinggi.
Saat ini, produksi pangan lokal baru mampu memenuhi sekitar 35 persen kebutuhan masyarakat. Sedangkan 65 persen sisanya, masih dipasok dari luar Kalimantan.
Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus segera diantisipasi. Terutama seiring meningkatnya jumlah penduduk di kawasan penyangga IKN, dalam beberapa tahun ke depan.
“Sebagian besar pasokan pangan masih didatangkan dari Pulau Jawa dan Sulawesi,” terangnya di Samarinda, Rabu, 15 Juli 2026.
Ketergantungan terhadap daerah lain, dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan maupun harga. Apabila terjadi gangguan distribusi.
Marnabas menjelaskan, jumlah penduduk di kawasan penyangga IKN diproyeksikan meningkat dari sekitar 2,6 juta jiwa menjadi 3,5 juta jiwa pada 2030.
Kondisi tersebut dipastikan akan mendorong peningkatan kebutuhan berbagai komoditas pangan. Mulai dari beras, hortikultura hingga produk peternakan.
Untuk memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar daerah. Pemerintah Kota Samarinda mengusulkan, pembukaan sekitar 100 ribu hektare lahan pertanian baru di Kalimantan Timur (Kaltim) khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan Penajam Paser Utara (PPU).
Lahan tersebut direncanakan, tidak hanya dimanfaatkan untuk pengembangan sawah. Tetapi juga budidaya hortikultura dan peternakan, guna memperkuat pasokan pangan di kawasan penyangga IKN.
“Kalau dibandingkan dengan luas wilayah Kalimantan, kebutuhan lahan itu bahkan tidak sampai 0,5 persen,” katanya.
Ia memperkirakan, kebutuhan investasi untuk membuka dan menyiapkan lahan hingga siap berproduksi mencapai sekitar Rp700 miliar.
Menurut Marnabas, apabila program tersebut dapat direalisasikan, kapasitas produksi pangan lokal akan meningkat. Sehingga ketergantungan, terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi.
Di sisi lain, pengembangan sektor pertanian juga diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga stabilitas harga pangan di tengah meningkatnya permintaan akibat pembangunan IKN.
Menurutnya, ketahanan pangan harus dipersiapkan sejak sekarang agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari produksi daerah sendiri, bukan terus bergantung pada pasokan dari luar.

