Insitekaltim, Kukar – Kabut tebal yang biasanya terlihat di ruas jalan Tanah Datar hingga Pampang, Samarinda, meluas hingga Km 43 Jalan Samarinda-Bontang, Desa Badak Mekar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Minggu, 13 September 2026 pagi.
Fenomena tersebut membuat warga dan pengguna jalan terheran-heran. Pasalnya, kabut turun cukup tebal dan memanjang hingga beberapa kilometer. Kondisi itu membuat jarak pandang pengendara sangat terbatas.
Usman, warga Badak Mekar, mengatakan kabut tebal mulai terjadi dalam dua hari terakhir. Pada Minggu pagi, kondisi kabut bahkan membuat ruas jalan sulit terlihat.
“Tidak tahu ini. Baru dua hari begini. Kabut tebal. Tidak bisa lihat jalanan,” kata Usman, Minggu sekitar pukul 07.15 Wita.
Pantauan di lokasi, jarak pandang pengendara diperkirakan hanya sekitar 5-10 meter. Kondisi tersebut membuat kendaraan dari berbagai jenis, mulai roda dua hingga kendaraan berukuran besar, harus mengurangi kecepatan.
Dalam beberapa kilometer ruas jalan yang diselimuti kabut, laju kendaraan tidak lebih dari sekitar 30 kilometer per jam. Pengendara tampak lebih berhati-hati karena kendaraan dari arah berlawanan baru terlihat ketika sudah berada dalam jarak cukup dekat.
Untuk meningkatkan visibilitas, hampir seluruh kendaraan yang melintas menyalakan lampu. Langkah tersebut dilakukan agar keberadaan kendaraan lebih mudah diketahui pengendara lain dari arah berlawanan.
Sejumlah kendaraan yang berhenti di tepi jalan juga tetap menyalakan lampu. Hal itu dilakukan untuk memberi tanda kepada kendaraan yang datang dari belakang, sekaligus mengurangi risiko tabrakan dengan kendaraan yang sedang terparkir.
“Jarak pandang pendek sekali,” ujar seorang pengemudi sambil merekam kondisi kabut menggunakan telepon selulernya.
Kabut tebal tersebut juga disertai udara yang terasa cukup dingin. Kondisi itu berbeda dari situasi lalu lintas pada pagi hari biasanya, ketika kendaraan dapat melaju dengan kecepatan lebih tinggi di ruas tersebut.
Fenomena kabut di jalur Samarinda-Bontang ini disebut sebagai fenomena alam, bukan akibat asap kebakaran. Meski demikian, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang melintasi kawasan tersebut pada pagi hari.
Kabut bahkan masih terlihat tebal ketika matahari mulai meninggi. Kabut perlahan menipis, tetapi tidak langsung menghilang dari sejumlah titik ruas jalan.
Fenomena ini kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai faktor yang memicunya. Apakah kabut tebal tersebut berkaitan dengan kondisi kemarau panjang, suhu udara, kelembapan, atau karakteristik lingkungan di kawasan tersebut?
Pertanyaan lain juga muncul terkait kondisi geologi wilayah yang berada di jalur tersebut, termasuk keberadaan endapan batu bara. Namun, kaitan antara fenomena kabut dengan deposit batu bara di bawah permukaan tanah tidak dapat dipastikan tanpa kajian ilmiah.
Untuk sementara, pengguna jalan yang melintasi Km 43 Samarinda-Bontang pada pagi hari diimbau meningkatkan kewaspadaan, mengurangi kecepatan, serta menggunakan lampu kendaraan ketika jarak pandang terbatas.

