Insitekaltim, Samarinda – Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul), Aji Sofyan Effendi mengatakan, kondisi ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini, tidak bisa dilepaskan dari berbagai gejolak yang terjadi di tingkat global.
Konflik geopolitik, tingginya suku bunga global, dan perlambatan ekonomi negara-negara besar menjadi faktor utama, yang saat ini menekan perekonomian dunia.
Dampaknya turut dirasakan Indonesia, termasuk Kalimantan Timur (Kaltim) yang masih bergantung pada sektor komoditas ekspor.
“Kalau hari ini kita melihat persoalan ekonomi di daerah, itu tidak muncul begitu saja. Ada yang disebut external shock, yaitu guncangan dari luar, yang memengaruhi ekonomi Indonesia sampai ke tingkat daerah,” ujarnya.
Aji menjelaskan, faktor yang menjadi ancaman adalah konflik geopolitik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan dunia.
Mulai dari perang Rusia-Ukraina, konflik di Timur Tengah, hingga rivalitas ekonomi dan perdagangan antara Amerika Serikat dan China.
Menurutnya, berbagai konflik tersebut memicu gangguan rantai pasok global. Ketidakstabilan harga energi dan pangan, serta meningkatkan ketidakpastian investasi di berbagai negara.
Dampaknya adalah gangguan rantai pasok global, harga energi yang berfluktuasi, harga pangan yang berubah-ubah, dan meningkatnya ketidakpastian investasi.
Juga tingginya suku bunga global, terutama yang masih dipertahankan Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar AS, menjadi lebih menarik bagi investor sehingga banyak modal kembali mengalir ke negara tersebut.
“Ketika suku bunga tinggi, orang lebih memilih menyimpan aset dalam dolar. Dibandingkan masuk ke sektor usaha yang dianggap berisiko. Akibatnya modal kembali ke Amerika Serikat,” jelasnya.
Fenomena tersebut, berdampak pada menguatnya dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Menyusul perlambatan ekonomi dunia, khususnya di China.
Menurut Aji, kondisi ini perlu menjadi perhatian serius. Karena China, merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.
China selama ini, menjadi pasar utama bagi ekspor batu bara Indonesia. Juga salah satu tujuan utama ekspor minyak sawit.
Ketika pertumbuhan ekonomi negara tersebut melambat, permintaan terhadap berbagai komoditas juga berpotensi menurun.
“Dampaknya akan dirasakan negara-negara pengekspor, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Meski demikian, Aji menilai perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik di tengah berbagai tekanan global tersebut.
Sejumlah lembaga internasional masih memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,7 hingga 5,2 persen pada 2026.
Bahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2026 mencapai 5,6 persen.

