Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Karhutla Tol Balsam Meluas, Pemprov Kaltim Buka Peluang Usulkan Status Bencana Nasional

    Oktober 14, 2026

    Pemkot Samarinda Cari Dana Provinsi dan Pusat untuk Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni

    Oktober 14, 2026

    Jaga Struktur Jembatan Mahkota II, Pemkot Samarinda Tegaskan Fungsi Portal Pembatas Ketinggian

    Oktober 14, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Ekonomi»Gejolak Politik Global, Ikut Jadi Ancaman bagi Perekonomian Indonesia
    Ekonomi

    Gejolak Politik Global, Ikut Jadi Ancaman bagi Perekonomian Indonesia

    IraBy IraJuni 16, 2026Updated:Juli 5, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Pengamat Ekonomi Unmul, Aji Sofyan Effendi (Insitekaltim/Ira)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul), Aji Sofyan Effendi mengatakan, kondisi ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini, tidak bisa dilepaskan dari berbagai gejolak yang terjadi di tingkat global.

    Konflik geopolitik, tingginya suku bunga global, dan perlambatan ekonomi negara-negara besar menjadi faktor utama, yang saat ini menekan perekonomian dunia.

    Dampaknya turut dirasakan Indonesia, termasuk Kalimantan Timur (Kaltim) yang masih bergantung pada sektor komoditas ekspor.

    “Kalau hari ini kita melihat persoalan ekonomi di daerah, itu tidak muncul begitu saja. Ada yang disebut external shock, yaitu guncangan dari luar, yang memengaruhi ekonomi Indonesia sampai ke tingkat daerah,” ujarnya.

    Aji menjelaskan, faktor yang menjadi ancaman adalah konflik geopolitik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan dunia.

    Mulai dari perang Rusia-Ukraina, konflik di Timur Tengah, hingga rivalitas ekonomi dan perdagangan antara Amerika Serikat dan China.

    Menurutnya, berbagai konflik tersebut memicu gangguan rantai pasok global. Ketidakstabilan harga energi dan pangan, serta meningkatkan ketidakpastian investasi di berbagai negara.

    Dampaknya adalah gangguan rantai pasok global, harga energi yang berfluktuasi, harga pangan yang berubah-ubah, dan meningkatnya ketidakpastian investasi.

    Juga tingginya suku bunga global, terutama yang masih dipertahankan Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar AS, menjadi lebih menarik bagi investor sehingga banyak modal kembali mengalir ke negara tersebut.

    “Ketika suku bunga tinggi, orang lebih memilih menyimpan aset dalam dolar. Dibandingkan masuk ke sektor usaha yang dianggap berisiko. Akibatnya modal kembali ke Amerika Serikat,” jelasnya.

    Fenomena tersebut, berdampak pada menguatnya dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

    Menyusul perlambatan ekonomi dunia, khususnya di China.

    Menurut Aji, kondisi ini perlu menjadi perhatian serius. Karena China, merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

    China selama ini, menjadi pasar utama bagi ekspor batu bara Indonesia. Juga salah satu tujuan utama ekspor minyak sawit.

    Ketika pertumbuhan ekonomi negara tersebut melambat, permintaan terhadap berbagai komoditas juga berpotensi menurun.

    “Dampaknya akan dirasakan negara-negara pengekspor, termasuk Indonesia,” ujarnya.

    Meski demikian, Aji menilai perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik di tengah berbagai tekanan global tersebut.

    Sejumlah lembaga internasional masih memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,7 hingga 5,2 persen pada 2026.

    Bahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2026 mencapai 5,6 persen.

     




    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Ira

    Related Posts

    Harga Cabai di Samarinda Naik, Disdag Sebut Biaya Pengiriman Jadi Pemicu

    Oktober 13, 2026

    Wagub Kaltim Dorong Peningkatan PAD dari Sektor Energi, Soroti PI dan Antrean BBM

    Oktober 10, 2026

    Beda dengan Pemprov Kaltim, Pemkot Samarinda Tak Wajibkan ASN Menginap di Hotel Pemda

    Oktober 8, 2026

    Harga TBS Sawit Kaltim Menguat, Dinas Perkebunan Ingatkan Petani Soal Tengkulak

    Oktober 6, 2026

    Kebutuhan Daging Domba Kaltim Buka Peluang Ekonomi bagi Peternak Lokal

    Oktober 6, 2026

    Inflasi Kaltim Tembus 3,98 Persen, Harga Pangan dan Transportasi Jadi Beban Terbesar

    Oktober 2, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Karhutla Tol Balsam Meluas, Pemprov Kaltim Buka Peluang Usulkan Status Bencana Nasional

    AminahOktober 14, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) membuka peluang mengusulkan status bencana nasional…

    Pemkot Samarinda Cari Dana Provinsi dan Pusat untuk Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni

    Oktober 14, 2026

    Jaga Struktur Jembatan Mahkota II, Pemkot Samarinda Tegaskan Fungsi Portal Pembatas Ketinggian

    Oktober 14, 2026

    Penerimaan Retribusi Samarinda Belum Capai 40 Persen, Bapenda Petakan Potensi Pendapatan

    Oktober 14, 2026

    Perluas Jaminan BPJS Ketenagakerjaan, Pemkot Samarinda Bidik Dukungan CSR Perusahaan

    Oktober 14, 2026
    1 2 3 … 3,383 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.