Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Wawali Samarinda: Inovasi Harus Hadirkan Solusi, Bukan Sekadar Gagasan

    August 6, 2026

    Mutasi KK Jadi Sorotan SPMB Samarinda, DPRD Dorong Mitigasi Sejak Kelas 5 SD

    August 6, 2026

    76 Persen Laba Varia Niaga Bergantung Satu Unit Usaha, Andi Harun Minta Direksi Perluas Pasar

    August 6, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Fenomena Gen Z Belum Menikah di Usia Ideal, Realistis Jadi Prinsip
    Lifestyle

    Fenomena Gen Z Belum Menikah di Usia Ideal, Realistis Jadi Prinsip

    R’syaBy R’syaMay 24, 2026Updated:July 2, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Ilustrasi Gen Z (foto by AI)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Kehidupan terus bergerak secara dinamis dan mengalami kemajuan demi kemajuan. Hal-hal yang dulu biasa dilakukan oleh banyak orang semakin lama ditinggalkan dan berkembang menjadi gaya baru. Ada satu fenomena yang cukup mengkhawatirkan.

    Generasi Z atau Gen Z. Banyak dari mereka belum menikah, bahkan di usia yang dulu dianggap “ideal”.

    Padahal, generasi sebelumnya di usia yang sama sudah banyak yang berkeluarga. Tak dapat dipungkiri, kondisi sekarang memang sudah jauh berubah, terutama dari sisi ekonomi dan cara pandang hidup.

    Di saat orang tua dulu banyak menikah di usia 20-an awal, sekarang banyak Gen Z yang bahkan di usia akhir 20-an masih memilih fokus ke diri sendiri. Namun, jika dilihat lebih dalam, ini bukan sekadar soal pilihan gaya hidup. Ada faktor ekonomi yang cukup besar di baliknya.

    Salah satu alasan paling kuat adalah tekanan ekonomi. Harga kebutuhan sehari-hari naik, mulai dari makan, transportasi, sewa tempat tinggal bahkan sampai biaya kesehatan. Sementara itu, gaji entry level di banyak tempat tidak selalu cukup untuk hidup nyaman, apalagi untuk memulai keluarga. Akibatnya, banyak Gen Z memilih menunda pernikahan demi stabilitas finansial dulu.

    Menikah di zaman sekarang juga tak semurah dahulu. Dulu, pernikahan bisa lebih sederhana. Sekarang, standar sosial ikut naik. Banyak orang merasa harus siap punya rumah atau tempat tinggal, punya tabungan, punya pekerjaan stabil, bahkan “mapan secara total”. Padahal realitanya, untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan waktu dan proses panjang.

    Karier Gen Z juga tidak se-stabil generasi sebelumnya. Di dunia kerja modern, banyak pekerjaan bersifat kontrak, freelance atau berbasis proyek. Bahkan, pekerjaan formal pun tidak selalu menjamin stabilitas jangka panjang. Dalam kondisi seperti ini, banyak Gen Z lebih memilih fokus membangun karier dulu sebelum mengambil komitmen besar seperti pernikahan.

    Banyak Gen Z memiliki pemikiran menikah tidak lagi wajib di usia tertentu. Hidup punya banyak pilihan seperti membangun karier, traveling, fokus self-improvement atau mengejar kebebasan finansial.

    Gen Z cenderung melihat pernikahan sebagai pilihan, bukan tekanan sosial.

    Tekanan sosial seperti pertanyaan “kapan nikah?”
    masih sering muncul di keluarga atau lingkungan. Namun, sikap Gen Z dalam menangani itu berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak terburu-buru, memilih waktu sendiri atau bahkan menolak standar sosial lama. Sehingga fokusnya bergeser dari “harus cepat menikah” menjadi “harus siap dulu”.

    Banyak Gen Z sekarang lebih fokus pada kesehatan mental, kestabilan finansial, kualitas hidup dan kebebasan pribadi. Pada dasarnya, pernikahan tetap dianggap penting tapi bukan lagi satu-satunya tujuan hidup.

    Banyaknya Gen Z yang belum menikah bukan karena mereka “menunda tanpa alasan”, melainkan karena kombinasi realitas ekonomi, perubahan karier dan pergeseran cara pandang hidup. Di tengah biaya hidup yang semakin tinggi dan ketidakpastian kerja, menunda pernikahan sering kali bukan pilihan emosional, tetapi keputusan yang dianggap lebih realistis.

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    R’sya

    Related Posts

    Hipertensi dan Diabetes Dua Penyakit Tidak Menular, Dominasi Faktor Penyebab Kematian

    August 6, 2026

    Dokter RSUD IA Moeis Disanksi Usai Komentar Viral Kepada Pasien BPJS di Media Sosial

    August 5, 2026

    Pemkot Samarinda Ambil Alih, Pembiayaan 51 Ribu Peserta BPJS PBI

    August 4, 2026

    Masuk Lapas, CKG Warga Binaan Jalani Skrining TBC dan Pemeriksaan Kesehatan

    August 3, 2026

    Rencana Pembangunan RSUD Baru Kutai Barat, Mulai 2027 Serap Anggaran Capai Rp297 Miliar

    August 2, 2026

    Pensiun Jabatan, Hadi Mulyadi Tetap Produktif Lewat Olahraga dan Mengajar

    August 2, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Wawali Samarinda: Inovasi Harus Hadirkan Solusi, Bukan Sekadar Gagasan

    Andika SaputraAugust 6, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri mendorong masyarakat, akademisi, dan pemerintah untuk…

    Mutasi KK Jadi Sorotan SPMB Samarinda, DPRD Dorong Mitigasi Sejak Kelas 5 SD

    August 6, 2026

    76 Persen Laba Varia Niaga Bergantung Satu Unit Usaha, Andi Harun Minta Direksi Perluas Pasar

    August 6, 2026

    Hipertensi dan Diabetes Dua Penyakit Tidak Menular, Dominasi Faktor Penyebab Kematian

    August 6, 2026

    Jadi Sumber PAD Baru, Pemkot Siapkan Ekspansi Produksi Samaqua

    August 6, 2026
    1 2 3 … 3,261 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.