Insitekaltim, Samarinda – Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kalimantan Timur (Kaltim) Titit Lestari mendorong pengembangan fashion berbasis budaya dan wastra Nusantara sebagai salah satu cara memperkuat ekonomi budaya di Kaltim.
Menurut Titit, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga warisan leluhur. Kekayaan budaya juga perlu diberdayakan dan dikembangkan agar tetap hidup sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Fashion menjadi salah satu bukti nyata bagaimana kekayaan budaya kita dapat diolah, dikembangkan, dan memberi nilai tambah yang nyata,” ujarnya dalam Talkshow Fashion dan Wastra Outlook di Gedung Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur, Minggu, 13 September 2026.
Ia mengatakan, budaya tidak semestinya hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Dengan pengembangan yang tepat, budaya dapat menjadi sumber kesejahteraan masyarakat sekaligus memiliki daya saing lebih luas.
Titit menilai Kaltim memiliki peluang besar untuk menjadi ruang pertemuan berbagai kekayaan budaya dari seluruh Indonesia. Keragaman tersebut dinilai dapat melahirkan inovasi fashion baru dengan karakter yang khas.
“Ke depan, Kalimantan Timur tak hanya akan menjadi rumah bagi berbagai budaya dari seluruh Nusantara, tetapi juga tempat lahirnya budaya fesyen baru, hasil pertemuan dan perpaduan kekayaan budaya dari seluruh Indonesia yang berkumpul di sini,” yakinnya.
Ia menjelaskan, Kaltim memiliki kekayaan wastra yang beragam, baik dari sisi motif maupun teknologi tradisional dalam proses pembuatannya. Kekayaan tersebut dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan karya fashion yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga mampu berkembang menjadi tren.
Titit menegaskan Indonesia, termasuk Kaltim, tidak kekurangan sumber inspirasi untuk mengembangkan industri fashion berbasis budaya. Berbagai motif dan teknik tradisional yang telah diwariskan menjadi modal yang dapat terus digali dan disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Ia berharap warisan budaya dapat diperkuat dengan gagasan-gagasan baru sehingga karya wastra tidak hanya diminati di daerah asalnya, tetapi juga mampu menjangkau pasar yang lebih luas hingga internasional.
Sementara itu, Ketua BPP FASCREEYA Indonesia, Anas Maghfur menyampaikan wastra memiliki potensi yang lebih luas daripada sekadar peninggalan budaya.
“Karena bagi kami, wastra bukan sekadar peninggalan masa lalu dan merupakan sumber inspirasi, sumber kreativitas, sekaligus peluang industri yang nyata,” tuturnya.
Dirinya pun berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang berbagi wawasan, memperkuat kolaborasi, sekaligus membuka peluang bagi generasi muda dan pelaku fashion di Kalimantan Timur.
Talkshow Fashion dan Wastra Outlook tersebut turut menghadirkan Fashion Designer sekaligus National Chairwoman Indonesian Fashion Chamber (IFC) Lenny Agustin serta Fashion Designer dan National Vice Chair Division Organization IFC Phillip Iswardono.

