Insitekaltim, Samarinda – Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) Rasman Rading menegaskan penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VIII Kaltim akan mengedepankan efisiensi anggaran dengan memangkas berbagai fasilitas nonprioritas.
Menurutnya, pembiayaan akan difokuskan pada kebutuhan utama pertandingan agar pelaksanaan Porprov tetap berjalan optimal di tengah keterbatasan anggaran.
Sebagai informasi, Porprov VIII Kaltim dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Paser pada 14–27 November 2026. Rasman mengatakan seluruh kabupaten dan kota dipastikan mengikuti ajang tersebut, sementara kesiapan tuan rumah telah mencapai sekitar 90 persen.
“Pada prinsipnya seluruh kabupaten dan kota ikut Porprov. Kalau di sana insyaallah 80 sampai 90 persen yang sudah siap,” ujarnya di Samarinda Senin, 13 Juli 2026.
Meski dipusatkan di Kabupaten Paser, sejumlah cabang olahraga tetap akan digelar di luar daerah tersebut karena keterbatasan venue. Hoki dan rugby akan dipertandingkan di Samarinda, golf di Lapangan Golf Lempake Samarinda, bowling dan squash di Balikpapan, sedangkan layar dipusatkan di Berau.
Rasman menyebut pihaknya juga meminta pengurus besar cabang olahraga tidak memaksakan pertandingan tetap digelar di Paser apabila venue belum siap menjelang pelaksanaan.
“Ada beberapa cabor yang harus kita laksanakan di luar Paser. Kalau satu bulan menjelang pelaksanaan venue belum siap, jangan dipaksakan di sana supaya pelaksanaannya lebih murah karena kita sedang melakukan efisiensi,” terangnya.
Ia menjelaskan, efisiensi dilakukan pada berbagai komponen pembiayaan, termasuk pengurangan honor penyelenggara karena kebutuhan sumber daya manusia yang besar serta penggunaan perangkat pertandingan dari luar daerah.
“Betul-betul kita paket hemat tahun ini. Kita akan seminimal mungkin pembiayaannya,” tegasnya.
Pemprov Kaltim tetap berkomitmen membiayai kebutuhan yang memang menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun, sejumlah fasilitas penunjang seperti baju training, sepatu dan topi tidak lagi menjadi prioritas pembiayaan.
“Item yang semestinya ada kita tiadakan, contohnya baju training, sepatu, topi. Intinya adalah kejuaraan, bukan topi,” tuturnya.
Rasman menambahkan, kebijakan efisiensi juga akan diterapkan pemerintah kabupaten dan kota peserta Porprov. Ia meminta seluruh cabang olahraga memahami kondisi tersebut, termasuk apabila ada daerah yang tidak lagi menggelar pemusatan latihan (training center/TC).
“Semua pemerintah kabupaten dan kota juga melakukan efisiensi besar-besaran. Biasanya ada yang melakukan TC, mungkin sekarang ada yang tidak. Itu harus dimaklumi. Cabor juga harus memaklumi, jangan memaksakan harus ada ini dan itu. Maksimalkan potensi dan fasilitas yang ada. Kalau mencari yang sempurna, pasti akan selalu ada yang kurang,” pungkasnya.

