
Insitekaltim, Samarinda – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menyiapkan opsi pembelajaran dari rumah apabila kualitas udara semakin memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie mengatakan, kondisi kualitas udara perlu dipantau secara berkala karena tingkat pencemaran di setiap wilayah Samarinda dapat berbeda.
Menurutnya, aktivitas pembelajaran di luar ruangan perlu dikurangi ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat. Penggunaan masker juga perlu menjadi perhatian bagi siswa maupun masyarakat.
“Wilayah Samarinda memang ada beberapa kecamatan yang kurang baik kondisi udaranya, ada juga yang masih bagus. Kami minta dinas terkait melihat perkembangan kondisi setiap harinya,” ujar Novan, Kamis, 3 September 2026.
Novan menilai pembelajaran dari rumah dapat menjadi salah satu langkah antisipasi apabila kualitas udara di wilayah tertentu tidak memungkinkan untuk kegiatan belajar secara langsung.
Ia meminta Disdikbud tidak menerapkan kebijakan secara seragam tanpa melihat kondisi udara di masing-masing kecamatan. Menurutnya, keputusan pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara di lapangan.
“Disdik diminta melakukan pembelajaran yang sifatnya tidak berinteraksi di luar ruangan atau dari rumah jika kondisi udara sudah tidak bagus,” katanya.
Selain sektor pendidikan, DPRD juga menyoroti potensi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seiring memburuknya kualitas udara Samarinda.
Pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memantau perkembangan kondisi udara dan dampak karhutla.
Ia menyebut indeks standar pencemar udara (ISPU) yang sebelumnya berada di angka 98 telah meningkat menjadi 148. Kondisi tersebut masuk kategori tidak sehat sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
“Udara kita pekan lalu 98, sekarang sudah 148 masuk kategori tidak sehat. Kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan,” ucapnya.
DPRD juga mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda memperkuat kesiapan pelayanan di puskesmas maupun rumah sakit. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi apabila terjadi peningkatan jumlah warga yang mengalami gangguan pernapasan.
Di sisi lain, Novan mengingatkan masyarakat tidak menunggu munculnya gejala ISPA untuk menggunakan masker. Warga juga dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara berada dalam kondisi buruk.
“Jangan sampai sudah merasakan gejalanya baru menggunakan masker. Kita perlu antisipasi lebih dulu karena kondisi udara kita tidak menentu,” tegasnya.
Upaya perlindungan masyarakat juga dilakukan melalui pembagian masker. Sekitar 10 ribu masker disebut telah disiapkan relawan untuk dibagikan kepada warga sekaligus sebagai bagian dari edukasi menghadapi kondisi udara yang memburuk.
Ia berharap seluruh pihak dapat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dan meningkatnya kejadian karhutla.
“Perlindungan masyarakat harus menjadi prioritas, khususnya kelompok yang rentan terhadap dampak kabut asap,” tandasnya.

