Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Juli 2026 Uang Primer Tumbuh 17,1 Persen, Capai Rp2.254,5 Triliun

    Agustus 13, 2026

    Polda Kaltim Luncurkan URC Reserse, Respons Laporan Kejahatan 24 Jam

    Agustus 13, 2026

    Tegaskan HIV/AIDS Isu Kesehatan Masyarakat, IAC Minta Perda Baru Bebas Stigma dan Diskriminasi

    Agustus 13, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Dompet Aman, Saldo Menipis: Fenomena Belanja Impulsif di Era QRIS
    Lifestyle

    Dompet Aman, Saldo Menipis: Fenomena Belanja Impulsif di Era QRIS

    R’syaBy R’syaMei 30, 2026Updated:Juli 2, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Ilustrasi pembayaran melalui QRIS (foto by AI)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Di tengah pesatnya perkembangan transaksi digital, pembayaran menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Mulai dari membeli makanan, membayar parkir, hingga berbelanja kebutuhan harian cukup dengan memindai kode QR melalui ponsel dan transaksi dapat selesai dalam hitungan detik.

    Kemudahan tersebut membuat masyarakat semakin terbiasa meninggalkan uang tunai. Namun di balik kenyamanan itu, sejumlah penelitian menunjukkan adanya fenomena psikologis yang membuat uang digital terasa lebih mudah dibelanjakan dibandingkan uang fisik.

    Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai cashless effect. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Retailing pada 2024 menemukan bahwa konsumen cenderung mengeluarkan lebih banyak uang saat menggunakan metode pembayaran nontunai dibandingkan uang tunai.

    Fenomena tersebut berkaitan dengan teori pain of paying yang diperkenalkan oleh profesor ekonomi dan psikologi dari Drazen Prelec dan George Loewenstein dimana teori ini menjelaskan bahwa seseorang mengalami semacam “rasa sakit” psikologis ketika mengeluarkan uang.

    Saat membayar menggunakan uang tunai, seseorang dapat melihat dan merasakan langsung jumlah uang yang berpindah dari dompetnya. Sebaliknya, pembayaran digital berlangsung lebih cepat dan minim gesekan sehingga pengeluaran terasa kurang nyata. Akibatnya, seseorang bisa lebih mudah melakukan pembelian tanpa banyak pertimbangan.

    Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology juga menemukan bahwa pembayaran melalui perangkat digital dapat mengurangi pain of paying. Bahkan, dalam beberapa kasus, kemudahan transaksi justru menciptakan pengalaman yang menyenangkan sehingga mendorong keinginan untuk berbelanja lebih banyak.

    Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa teknologi pembayaran digital bukanlah penyebab utama seseorang menjadi boros. Faktor yang lebih menentukan adalah kebiasaan pengelolaan keuangan, kemampuan mengendalikan diri serta tingkat literasi finansial masing-masing individu.

    Perencana keuangan menilai pembayaran digital seperti QRIS justru dapat membantu masyarakat mencatat pengeluaran dengan lebih rapi karena seluruh transaksi tersimpan dalam aplikasi. Fitur tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi pola konsumsi dan menyusun anggaran bulanan yang lebih terukur.

    Di era transaksi serba cepat, tantangan terbesar bukan lagi membawa uang tunai dalam dompet, melainkan menjaga kesadaran terhadap setiap rupiah yang dibelanjakan. Sebab, ketika proses pembayaran semakin mudah, kemampuan mengendalikan pengeluaran menjadi semakin penting.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    R’sya

    Related Posts

    Tegaskan HIV/AIDS Isu Kesehatan Masyarakat, IAC Minta Perda Baru Bebas Stigma dan Diskriminasi

    Agustus 13, 2026

    Penjangkauan HIV di Samarinda Makin Sulit, PKBI Soroti Pemangkasan Anggaran dan Penolakan Sosial

    Agustus 13, 2026

    Capaian SPM HIV Samarinda Tembus 99,8 Persen, Dinkes Ungkap Rahasianya

    Agustus 13, 2026

    DORAMI Kumpulkan 300 Kantong Darah, Kejar Target 500 Kantong per Bulan

    Agustus 13, 2026

    Skirining Serta Menjamin Ketersediaan Obat TBC dan HIV, Upaya Pemerintah Tekan Penyaku Menukae

    Agustus 13, 2026

    Tak Banyak Diketahui, BPJS Ketenagakerjaan Bantu Pekerja Beli Rumah hingga Rp500 Juta

    Agustus 12, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Juli 2026 Uang Primer Tumbuh 17,1 Persen, Capai Rp2.254,5 Triliun

    Nur AjijahAgustus 13, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Pertumbuhan Uang Primer (M0) pada Juli 2026 mencapai 17,1 persen secara tahunan…

    Polda Kaltim Luncurkan URC Reserse, Respons Laporan Kejahatan 24 Jam

    Agustus 13, 2026

    Tegaskan HIV/AIDS Isu Kesehatan Masyarakat, IAC Minta Perda Baru Bebas Stigma dan Diskriminasi

    Agustus 13, 2026

    Guru Masih Kurang 500 Orang, Disdikbud Samarinda Prioritaskan Perbaikan Sarpras Sekolah

    Agustus 13, 2026

    Penjangkauan HIV di Samarinda Makin Sulit, PKBI Soroti Pemangkasan Anggaran dan Penolakan Sosial

    Agustus 13, 2026
    1 2 3 … 3,276 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.