Di antara wilayah Kecamatan Muara Komam, Desa Prayon hadir sebagai salah satu desa dengan wilayah dan jumlah penduduk yang relatif kecil. Hanya sekitar 70 kepala keluarga yang tinggal di desa ini, terbagi dalam dua Rukun Tetangga (RT). Namun, keterbatasan jumlah penduduk tersebut justru menghadirkan sesuatu yang menjadi kekuatan tersendiri, yakni kedekatan antarmasyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antarwarga di Desa Prayon terasa begitu dekat. Dengan jumlah penduduk yang tidak banyak, interaksi dan kebersamaan menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menjadi modal sosial yang penting bagi desa untuk terus mengembangkan berbagai potensinya.
Salah satunya terlihat dari bidang olahraga. Hampir setiap sore, masyarakat Desa Prayon rutin berlatih bola voli. Aktivitas yang sekilas tampak sederhana itu sebenarnya memiliki arti lebih jauh. Latihan yang dilakukan secara konsisten menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai perlombaan, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.
Potensi masyarakat juga terlihat dari kehidupan sehari-hari yang dekat dengan sumber pangan lokal. Sayur-mayur menjadi salah satu bagian dari sumber makanan masyarakat. Ditambah dengan kebiasaan berolahraga, kehidupan masyarakat Desa Prayon menunjukkan pola hidup yang cukup aktif.
Dari sisi ekonomi, kehidupan masyarakat juga terlihat relatif stabil. Tidak banyak terlihat kesenjangan ekonomi yang mencolok dalam keseharian masyarakat. Kondisi ini menjadi salah satu gambaran bahwa keterbatasan wilayah dan jumlah penduduk tidak selalu menjadi penghalang bagi masyarakat untuk membangun kehidupan yang cukup mandiri.
Namun, tantangan yang cukup terasa berada pada bidang pendidikan. Fasilitas pendidikan di Desa Prayon masih terbatas. Desa ini memiliki pendidikan tingkat TK, sementara sekolah dasar yang tersedia menerapkan sistem SD filial atau yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai SD kunjung. Sekolah induknya berada di desa tetangga, Muara Kuaro. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP dan SMA, masyarakat harus menuju wilayah kecamatan.
Meski demikian, hadirnya Universitas Terbuka (UT) memberikan alternatif bagi lulusan SMA di Desa Prayon untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan desa.
“Banyak anak lulusan SMA akhirnya kuliah melalui UT dan tetap tinggal di desa untuk bekerja, jadi satu dayung dua pulau terlampaui,” ujar Kepala Desa Prayon, Bahrin Aqli, beberapa waktu lalu di Desa Prayon, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser.
Potensi kebersamaan itu semakin terlihat setiap perayaan 17 Agustus. Selain lomba yang umum dijumpai seperti makan kerupuk dan memasukkan paku ke dalam botol, masyarakat Prayon mempertahankan permainan seperti egrang, belah rotan, dan kupas kelapa. Ada pula lomba voli buta, yakni permainan bola voli dengan net yang ditutup sehingga pemain tidak dapat melihat arah datangnya bola.
Di desa yang kecil ini, potensi tidak selalu hadir dalam bentuk sumber daya yang besar. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan bersama: berlatih setiap sore, menjaga kedekatan antarwarga, mempertahankan permainan tradisional, hingga mencari jalan agar anak-anak desa tetap dapat mengenyam pendidikan tinggi. Prayon mungkin kecil secara ukuran, tetapi dari kesehariannya, desa ini menunjukkan bahwa keterbatasan dapat menjadi ruang untuk membangun kekuatan bersama.

