Insitekaltim, Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mengimbau masyarakat meningkatkan perlindungan diri di tengah kondisi cuaca panas yang berlangsung cukup panjang. Salah satu risiko kesehatan yang perlu diwaspadai adalah heatstroke atau sengatan panas.
Kepala Dinkes Kota Samarinda Ismid Kusasih mengatakan, masyarakat perlu mengurangi paparan langsung terhadap panas serta menggunakan alat pelindung diri (APD), terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan.
“Yang paling penting adalah menjaga kesehatan. Terhadap cuaca yang panas ini kita harus membekali dengan APD, alat pelindung diri,” kata Ismid, Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurutnya, penggunaan APD dapat disesuaikan dengan aktivitas masing-masing. Namun, hal yang tidak kalah penting adalah memastikan tubuh tidak kekurangan cairan.
Ismid menekankan masyarakat perlu memperbanyak minum untuk mencegah dehidrasi. Jika tubuh mengalami kekurangan cairan, maka upaya rehidrasi harus segera dilakukan.
“Yang paling penting sebenarnya adalah jangan sampai terjadi dehidrasi. Kalau terjadi dehidrasi, menghindarinya pasti rehidrasi. Jadi harus cukup minum,” ujarnya.
Ismid menjelaskan heatstroke berbeda dengan penyakit stroke. Heatstroke merupakan kondisi serius akibat sengatan panas yang dapat terjadi ketika tubuh mengalami paparan panas berlebihan.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang mengalami pingsan, gangguan sirkulasi darah, kekurangan cairan hingga gangguan kesadaran.
“Kalau terjadi heatstroke tiba-tiba memang sudah bisa pingsan. Ini yang rawan. Dia berakibat serius, terjadi kekurangan cairan, gangguan sirkulasi darah, dan bahkan bisa terjadi gangguan kesadaran,” jelasnya.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak memaksakan diri berada terlalu lama di bawah paparan panas. Perlindungan diri dan kecukupan cairan menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko tersebut.
Ismid juga mengatakan kondisi pingsan saat mengikuti kegiatan di bawah terik matahari tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai heatstroke. Ia mencontohkan kejadian saat upacara 17 Agustus yang lebih mungkin disebabkan kelelahan atau tidak tahan terhadap kondisi panas.
“Kalau upacara kemarin itu mungkin tidak sampai heatstroke, cuma kelelahan dan tidak tahan dengan kondisi panas,” katanya.
Di sisi lain, Ismid menyebut hingga saat ini belum terdapat peningkatan signifikan kasus penyakit yang berkaitan dengan kondisi cuaca panas.
Termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), menurutnya, penyakit tersebut memang menjadi salah satu penyakit yang dapat terjadi sepanjang tahun dan belum menunjukkan kenaikan yang luar biasa akibat cuaca panas.
“Kalau ISPA itu berlangsung sepanjang tahun. Mau cuaca panas atau tidak memang terjadi sebagai penyakit yang dominan. Angka kesakitan di musim panas ini seperti biasa, tidak ada peningkatan yang luar biasa,” tuturnya.
Ia pun kembali mengingatkan masyarakat agar menghindari paparan panas secara berlebihan, menggunakan perlindungan diri dan memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi.

