Insitekaltim, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda di tengah kondisi kemarau. Hingga 20 Agustus 2026, tercatat 72 kejadian karhutla di wilayah Samarinda.
Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda Marnabas Patiroy mengatakan, dari evaluasi pemerintah, aktivitas manusia menjadi penyebab dominan terjadinya kebakaran.
“Hampir 99 persen itu dilakukan oleh orang,” ujarnya di Balai Kota Samarinda, Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurut Marnabas, aktivitas tersebut bisa berupa pembukaan lahan dengan cara dibakar maupun kejadian yang tidak disengaja. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan.
Karena itu, pemerintah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api selama kondisi kemarau.
Imbauan tersebut nantinya diperkuat melalui camat dan lurah. Pemerintah meminta aparatur di tingkat wilayah menyampaikan langsung kepada masyarakat mengenai larangan membakar lahan dan pentingnya mencegah sumber api.
Marnabas menegaskan pemerintah tidak ingin penanganan baru dilakukan setelah kebakaran terjadi. Pencegahan dinilai lebih penting karena sebagian besar kejadian berasal dari aktivitas manusia.
“Lewat media ini juga saya berharap masyarakat tolonglah, jaga, jangan sampai buang puntung rokok sembarangan atau sengaja membakar lahan,” pesannya.
Selain memberikan imbauan, Pemkot Samarinda juga mulai meminta aparat penegak hukum melihat kemungkinan tindakan terhadap pihak yang tetap melakukan pembakaran setelah diberikan peringatan. Namun, pendekatan pemerintah saat ini masih mengedepankan pembinaan dan persuasif kepada masyarakat.
“Sekarang kita masih dalam bentuk pembinaan. Dikasih tahu, dihimbau, jangan melakukan ini,” ucapnya.
Apabila setelah pembinaan masih ditemukan pelanggaran, langkah penindakan nantinya menjadi kewenangan aparat penegak hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
“Karena ada undang-undangnya,” jelasnya.
Untuk mendukung pencegahan, BPBD juga diminta mencari titik-titik yang berpotensi menjadi lokasi terjadinya karhutla. Pemetaan tersebut diperlukan agar potensi kebakaran dapat diantisipasi sejak awal.
Marnabas kembali meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan dan tidak membuang puntung rokok sembarangan selama kondisi kemarau.
“Jangan membakar di lahan, dalam kondisi begini ayo kita jaga sama-sama,” serunya.

