Insitekaltim, Samarinda – Upaya skrining dan penemuan kasus-kasus tuberkulosis (TB) dan HIV, secara dini terus diperkuat. Untuk menekan angka penularan sekaligus mencegah kematian akibat kedua penyakit tersebut.
Langkah ini ditempuh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda, karena kasus tuberkulosis (TB) dan HIV masih didominasi kelompok usia produktif.
Kepala Dinkes Samarinda, Ismid Kusasih, mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki, kelompok usia produktif. Menjadi kelompok yang paling rentan, terpapar TB maupun HIV.
“Kalau dari data yang ada, baik TB maupun HIV itu didominasi usia produktif, sekitar usia 20 hingga 40 tahun,” ujarnya.
Meski belum merinci wilayah dengan jumlah kasus terbanyak di Samarinda. Ismid menegaskan, Dinkes akan terus mengoptimalkan penemuan kasus melalui skrining agar pasien bisa segera mendapatkan pengobatan.
Ismid menjelaskan, dari 12 indikator SPM bidang kesehatan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan, hanya terdapat dua penyakit menular yang menjadi prioritas, yakni TB dan HIV.
Hal itu karena, kedua penyakit tersebut menjadi penyumbang angka kematian akibat penyakit menular tertinggi.
“Kalau bicara kesehatan, tujuan utamanya adalah mencegah kematian. Penyakit menular dengan angka kematian tertinggi itu adalah TB dan HIV,” jelasnya.
Karena itu, kita harus mempercepat skrining, menemukan penderita sedini mungkin, lalu segera memberikan pengobatan.
Ia menambahkan, sepanjang tahun lalu angka kematian akibat TB di Samarinda tercatat mencapai lebih dari 100 kasus. Kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi pemerintah, untuk terus memperluas cakupan skrining dan mempercepat penanganan pasien.
Menurut Ismid, semakin cepat penderita ditemukan dan menjalani pengobatan. Maka peluang penularan kepada masyarakat juga akan semakin kecil.
Sebab itu, Dinkes Samarinda akan terus menggencarkan deteksi dini sebagai strategi utama dalam pengendalian TB dan HIV di Kota Tepian.
Hingga Juni 2026, Dinkes Samarinda mencatat telah menemukan 184 kasus baru HIV, dengan 140 pasien telah menjalani pengobatan antiretroviral (ARV).
Sebagian besar kasus masih didominasi penularan melalui hubungan seksual berisiko, khususnya pada kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL).
Sementara itu, target penanganan TBC di Samarinda pada 2025 mencapai 4.770 kasus dengan realisasi 3.758 kasus atau 79 persen.
Sementara pada 2026, target meningkat menjadi 5.855 kasus. Hingga Maret, capaian baru menyentuh 732 kasus atau sekitar 13 persen. Juni 2026, realisasi SPM 11 untuk TB telah menyentuh 6.657 kasus atau sekitar 33,4 persen.

