Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    DPRD Kaltim Bidik Mall Lembuswana Jadi Mesin PAD Terbesar

    Agustus 24, 2026

    Teras Samarinda Segmen 2-4 Siap Diresmikan, Pemkot Masih Benahi Sejumlah Bagian

    Agustus 24, 2026

    32 Ibu dan 301 Bayi Meninggal, Kaltim Soroti Koordinasi Rujukan Antarwilayah

    Agustus 24, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Bukan Musuhan, Banyak Orang Kini Memilih Mengurangi Lingkaran Pertemanan
    Lifestyle

    Bukan Musuhan, Banyak Orang Kini Memilih Mengurangi Lingkaran Pertemanan

    R’syaBy R’syaJuni 7, 2026Updated:Juli 2, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Ilustrasi orang mengurangi lingkaran pertemanan (foto by AI)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Di era media sosial yang serba terhubung, memiliki banyak teman kerap dianggap sebagai sesuatu yang ideal. Semakin luas lingkaran pergaulan, semakin aktif kehidupan sosial seseorang dianggap. Namun belakangan, muncul fenomena berbeda. Banyak orang mulai secara sadar mengurangi lingkaran pertemanan mereka dan hanya mempertahankan hubungan yang dianggap benar-benar berarti.

    Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah friendship burnout, kondisi ketika seseorang merasa lelah secara emosional dalam menjalani hubungan pertemanan. Bukan karena membenci teman-temannya, melainkan karena energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan banyak hubungan sosial terkadang terasa semakin besar dibandingkan manfaat yang diperoleh.

    Tidak sedikit orang yang mulai memilih untuk lebih selektif dalam berinteraksi. Mereka mengurangi intensitas komunikasi dengan teman yang jarang berhubungan, meninggalkan grup yang sudah tidak relevan atau berhenti memaksakan diri hadir dalam setiap agenda sosial.

    Di kalangan generasi muda, perubahan ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental dan batasan pribadi. Banyak orang mulai memahami bahwa tidak semua hubungan harus dipertahankan hanya karena sudah terjalin dalam waktu lama. Hubungan yang terus-menerus menghadirkan tekanan, drama atau rasa tidak nyaman perlahan mulai ditinggalkan.

    Media sosial turut memperlihatkan perubahan tersebut. Jika dulu jumlah teman atau pengikut sering menjadi tolok ukur popularitas, kini semakin banyak orang yang tidak ragu membersihkan daftar pertemanan mereka. Beberapa bahkan secara terbuka mengaku hanya ingin mempertahankan koneksi dengan orang-orang yang benar-benar dekat dan memiliki pengaruh positif dalam kehidupan mereka.

    Meski demikian, mengurangi lingkaran pertemanan bukan berarti menjadi antisosial. Banyak orang justru mengaku hubungan yang tersisa terasa lebih berkualitas karena dibangun atas dasar kepercayaan, kenyamanan dan komunikasi yang lebih tulus.

    Para ahli juga menilai kualitas hubungan sosial memiliki peran yang lebih besar terhadap kesejahteraan emosional dibandingkan jumlah hubungan yang dimiliki. Memiliki beberapa teman dekat yang dapat diandalkan sering kali memberikan dukungan yang lebih bermakna dibandingkan memiliki banyak kenalan tanpa kedekatan emosional.

    Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap pertemanan. Jika dulu banyaknya teman dianggap sebagai pencapaian sosial, kini semakin banyak orang yang memilih fokus pada hubungan yang memberikan rasa aman, nyaman dan saling mendukung. Bagi sebagian orang, memiliki lingkaran kecil bukan lagi sebuah kekurangan, melainkan pilihan untuk menjaga kualitas hidup dan kesehatan emosional mereka.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    R’sya

    Related Posts

    Kenapa Salt Bread Makin Dilirik? Roti Jepang yang Menembus Tren Bakery

    Agustus 24, 2026

    Tak Harus Serba Merah-Putih, Begini Cara Tampil Stylish Saat 17-an

    Agustus 8, 2026

    5 Tanda Social Battery Habis, Kenali Bedanya dengan Antisosial

    Juli 11, 2026

    Jejak Laut Purba di Tangga Bidadari Jadi Modal Geopark Sangkulirang-Mangkalihat

    Juli 7, 2026

    Haraku Ramen Hadir Ramaikan Kuliner di Big Mall Samarinda

    Juni 26, 2026

    Tak Lagi Sekadar Olahraga, Tenis Menjelma Jadi Gaya Hidup Modern

    Juni 21, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    DPRD Kaltim Bidik Mall Lembuswana Jadi Mesin PAD Terbesar

    Ratu ArifanzaAgustus 24, 2026

    Insitekaltim, Samarinda — DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) mendorong Mall Lembuswana Samarinda dapat menjadi salah satu…

    Teras Samarinda Segmen 2-4 Siap Diresmikan, Pemkot Masih Benahi Sejumlah Bagian

    Agustus 24, 2026

    32 Ibu dan 301 Bayi Meninggal, Kaltim Soroti Koordinasi Rujukan Antarwilayah

    Agustus 24, 2026

    Kemenpora: Partisipasi Olahraga Jadi Kunci Lahirkan Atlet Disabilitas Berprestasi

    Agustus 24, 2026

    Pemadaman Listrik Berulang, Abdul Rohim Desak PLN Beri Kompensasi Warga Samarinda

    Agustus 24, 2026
    1 2 3 … 3,295 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.