Insitekaltim, Samarinda – Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Samarinda mulai menyambut peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027. Sebanyak 270 siswa dari berbagai daerah mulai berdatangan ke kompleks sekolah berasrama di Palaran, Jumat, 31 Juli 2026, untuk mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung selama dua pekan.
Berbeda dengan sekolah reguler, MPLS di Sekolah Rakyat tidak hanya berisi pengenalan lingkungan belajar. Selama dua minggu, siswa akan menjalani pemeriksaan kesehatan, asesmen akademik, pembinaan karakter, hingga adaptasi kehidupan di asrama.
Kepala Dinas Sosial Kota Samarinda Mochammad Arief Surochman mengatakan, dari total 270 peserta didik, sebanyak 222 anak berasal dari Samarinda, sedangkan 48 lainnya berasal dari Balikpapan, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Paser, hingga Kutai Timur.
“Hari ini kami memfasilitasi kedatangan siswa bersama orang tuanya. Besok dijadwalkan pemeriksaan kesehatan untuk seluruh siswa baru yang datang,” katanya.
Sekolah Rakyat juga disiapkan sebagai salah satu solusi bagi anak-anak rentan, termasuk anak jalanan yang selama ini menjadi sasaran pembinaan Dinas Sosial.
“Sangat memungkinkan. Salah satu perhatian kami memang anak-anak jalanan. Di sekolah rintisan sebelumnya juga ada anak-anak jalanan yang masuk. Ini menjadi salah satu solusi agar mereka mendapatkan pendidikan yang layak,” ujarnya.
Pembinaan terhadap anak jalanan tidak bisa dibebankan kepada Dinas Sosial semata. Peran sekolah, keluarga, RT, hingga lingkungan sekitar menjadi faktor penting agar anak tetap bertahan dalam pendidikan.
“Kami selalu berkoordinasi dengan sekolah, guru, RT, dan orang tua. Anak-anak ini menjadi tanggung jawab bersama,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SD Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Pahrizal menjelaskan alasan MPLS berlangsung selama dua minggu karena sekolah harus memetakan kemampuan dan kondisi setiap peserta didik.
Pasalnya, siswa yang diterima memiliki latar belakang yang sangat beragam. Tidak sedikit yang pernah putus sekolah, bahkan ada yang belum pernah mengenyam pendidikan formal.
“Anak-anak yang masuk di sini tidak semuanya langsung sesuai jenjang. Ada yang putus sekolah, ada yang belum pernah sekolah. Karena itu kami harus melakukan asesmen terlebih dahulu sebelum menentukan kelas yang tepat,” katanya.
Anak berusia 12 tahun belum tentu otomatis ditempatkan di kelas satu SD. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung akan menjadi dasar penempatan.
“Kalau ternyata dia sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung, tentu tidak langsung kami tempatkan di kelas satu. Kami asesmen dulu agar penempatannya sesuai kemampuan,” jelasnya.
Selain asesmen akademik, seluruh siswa juga menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pemeriksaan meliputi tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, hingga kondisi kesehatan awal sebagai data dasar pemantauan perkembangan siswa selama tinggal di asrama.
Pemantauan kesehatan dilakukan setiap bulan dan dilaporkan kepada Kementerian Sosial sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.
Tak hanya itu, guru dan wali asuh juga harus menghadapi tantangan lain, yakni membimbing siswa yang belum menguasai kemampuan dasar membaca.
“Masih ada anak yang di jenjang SMP belum bisa membaca. Maka guru dan wali asuh bekerja bersama. Apa yang diajarkan di kelas akan diulang lagi di asrama supaya kemampuan mereka cepat berkembang,” ujarnya.
Konsep pendidikan berasrama di Sekolah Rakyat membuat pembinaan karakter menjadi lebih intensif. Materi mengenai perundungan, hidup bersama, hingga pembiasaan disiplin diberikan berulang selama MPLS agar siswa mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.
“Kami ingin membangun suasana seperti sebuah kampung. Anak SMA mengenal adik-adiknya di SMP dan SD sebagai saudara. Karena itu materi karakter, anti-bullying, hingga kehidupan bersama menjadi bagian penting selama MPLS,” katanya.
Meski sebagian bangunan masih dalam tahap penyelesaian akhir, pihak sekolah memastikan seluruh kegiatan belajar tetap berjalan dengan pengawasan ketat. Siswa juga diimbau tidak memasuki area yang masih dikerjakan demi menjaga keselamatan selama proses adaptasi di lingkungan baru.

