Insitekaltim, Samarinda – Sebanyak 20 perupa dari Kalimantan Timur-Utara (Kaltimtara) menghadirkan karya seni yang mengangkat situs, memori tradisi, dan jejak peradaban lokal dalam pameran bertajuk “Di Balik Situs” di Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV, Jalan H.A.M. Rifaddin Samarinda, Senin, 12 Oktober 2026.
Pameran yang diinisiasi Lembaga Perupa Kaltim (LPK) melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan 2026 itu tidak hanya menampilkan karya visual, tetapi juga mengajak masyarakat melihat situs sebagai bagian dari ingatan kolektif dan identitas budaya. Kegiatan ini sekaligus menyoroti terbatasnya ruang publik untuk menampilkan karya seniman di daerah.
Ketua LPK Kaltim Rohmad Taufiq mengatakan, situs tidak semestinya dipahami sebatas peninggalan berupa benda atau bangunan. Di baliknya terdapat cerita, peristiwa, dan jejak peradaban yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.
“Tujuannya tidak lain adalah untuk membuat generasi sekarang tahu bahwasanya situs bukan hanya batu, tapi situs punya cerita, punya peristiwa, punya masa lalu dan peradaban bangsa yang perlu kita sampaikan kepada generasi muda,” kata Rohmad.
Pameran ini menjadi salah satu upaya memperkenalkan warisan sejarah melalui pendekatan seni rupa. Sebanyak 20 perupa dilibatkan dengan mempertimbangkan kapasitas ruang pamer, meskipun jumlah seniman yang tergabung dalam komunitas tersebut lebih banyak.
Rohmad juga menyoroti kebutuhan ruang apresiasi seni yang lebih luas di Kaltim. Ia menyebut pengalaman melihat perkembangan seni di sejumlah daerah di Pulau Jawa memunculkan pertanyaan dari kalangan seniman mengenai kemungkinan hadirnya kegiatan seni berskala besar di Samarinda atau Kaltim.
Ia berharap komunitas seni, dewan kesenian, lembaga kebudayaan, serta pemerintah dapat membangun kolaborasi untuk memperkuat ekosistem seni daerah.
“Kapan Kaltim ada Art Samarinda atau Art Kalimantan? itu yang ditunggu-tunggu,” ujarnya.
Kepala BPK Wilayah XIV Kaltimtara Titit Lestari mengakui, ruang publik untuk menampilkan ekspresi dan karya perupa masih terbatas. Karena itu, ia berharap fasilitas yang dimiliki BPK dapat menjadi pemantik bagi tumbuhnya ruang-ruang apresiasi seni lainnya.
Ia mengatakan dukungan terhadap kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya negara memfasilitasi komunitas budaya. Namun, ia juga mengakui dukungan anggaran yang tersedia masih relatif kecil dibandingkan semangat dan kebutuhan pelaku seni.
“Angkanya sangat kecil sekali, tapi saya yakin meskipun angkanya kecil, semangat teman-teman perupa Kaltim untuk melaksanakan kegiatan ini luar biasa,” kata Titit.
Keberlanjutan kegiatan seni tidak cukup bergantung pada satu penyelenggara atau fasilitas. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar seniman memiliki ruang untuk berkarya, menampilkan hasil karyanya, dan menjangkau masyarakat lebih luas.
Titit berharap pameran semacam ini dapat menjadi pemicu bagi penyediaan ruang publik yang lebih memadai, sehingga aktivitas seni tidak hanya berlangsung dalam kegiatan sesaat.
Selain pameran lukisan, kegiatan Di Balik Situs menghadirkan kolaborasi dengan para penutur yang akan menyampaikan cerita mengenai situs dan warisan budaya. Agenda lainnya adalah kegiatan melukis bersama dengan bimbingan perupa berpengalaman serta ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan cerita rakyat dan kisah di balik situs.
Pendekatan tersebut penting agar pelestarian budaya tidak berhenti pada upaya menjaga benda peninggalan, tetapi juga meneruskan pengetahuan dan nilai yang terkandung di dalamnya kepada generasi berikutnya.
Ia berharap karya seni dan cerita yang disampaikan dalam kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap peninggalan leluhur sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia.
“Bagaimana kita merawat kemampuan untuk mengingat tinggalan-tinggalan leluhur itu dan bisa merawatnya, sehingga penyampaian nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya tetap terlaksana,” ujarnya.
Pameran Di Balik Situs berlangsung selama tiga hari. Selain menjadi ruang pertemuan antara seniman dan masyarakat, kegiatan ini membuka kembali pertanyaan mengenai keberlanjutan dukungan bagi seni rupa di daerah, apakah ruang pamer, pendanaan, dan kolaborasi yang tersedia dapat berkembang menjadi ekosistem yang memberi kesempatan lebih luas bagi perupa Kaltim dan Kaltara untuk berkarya.

