Insitekaltim, Samarinda – Olahraga menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga tubuh tetap bugar. Namun, di tengah kualitas udara Samarinda yang sedang memburuk, kebiasaan berolahraga di luar rumah perlu kembali dipertimbangkan.
Alih-alih membuat tubuh semakin sehat, aktivitas fisik di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat justru membuat masyarakat perlu lebih waspada terhadap udara yang mereka hirup.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mengingatkan masyarakat agar tidak hanya memperhatikan jenis dan intensitas olahraga, tetapi juga kondisi lingkungan sebelum memulai aktivitas fisik.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kota Samarinda Suwarso mengatakan, masyarakat sebenarnya dapat memantau kualitas udara secara mandiri. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah aktivitas olahraga sebaiknya dilakukan di luar atau dialihkan ke dalam rumah.
“Kondisi kualitas udara itu kan siapapun bisa mengakses. Kemudian idealnya tanpa diperingatkan pemerintah pun dia sudah bisa mengukur. Bahwa ini kualitas udara baik atau buruk,” ujarnya.
Menurut Suwarso, kondisi kualitas udara cenderung berubah sepanjang hari. Udara pada pagi hari relatif lebih baik, sementara memasuki siang hingga sore hari kualitasnya dapat mengalami penurunan.
Kondisi tersebut membuat masyarakat yang ingin tetap menjaga kebugaran perlu lebih cermat memilih waktu maupun lokasi berolahraga.
Ketika kualitas udara sedang tidak baik atau masuk kategori tidak sehat, aktivitas fisik di luar ruangan disarankan untuk sementara dialihkan ke dalam rumah.
“Kalau kualitas udaranya sedang tidak baik atau tidak sehat, ya aktivitas warganya dalam rumah dulu deh. Treadmill misalnya gitu ya,” katanya.
Imbauan ini menjadi semakin relevan setelah hasil pemantauan kualitas udara di Taman Segiri, Jalan Harmonika, Kelurahan Dadi Mulya, Kecamatan Samarinda Ulu, menunjukkan angka Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai 102 pada Rabu, 2 September 2026 pukul 13.00 Wita.
Angka tersebut masuk kategori tidak sehat. Kondisi udara juga tidak selalu sama sepanjang hari. Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda sebelumnya menyebut kadar partikulat mulai meningkat sekitar pukul 12.00 hingga malam hari, setelah kondisi pada pagi hari cenderung berada pada kategori sedang.
Artinya, bagi warga yang menjadikan lari, bersepeda, berjalan kaki, atau aktivitas fisik lainnya sebagai rutinitas, memilih waktu olahraga menjadi bagian penting dari menjaga kesehatan.
Suwarso pun mendorong masyarakat tidak menunggu pemerintah mengeluarkan peringatan untuk mulai memperhatikan kualitas udara.
“Jadi untuk kepentingan kesehatan, dia harusnya bisa membatasi. Kualitas udara itu melihatan kan, lalu bisa kita pantau per 30 menit,” ujarnya.
Dengan pemantauan tersebut, masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas ketika kualitas udara memburuk. Olahraga tetap dapat dilakukan, tetapi tempat dan waktunya perlu disesuaikan.
Sebab, menjaga kesehatan bukan hanya soal seberapa sering tubuh bergerak, tetapi juga memperhatikan kualitas udara yang masuk ke dalam tubuh selama aktivitas berlangsung.

