Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Tiga Rekrutan Baru Borneo FC dan Ambisi Menembus Empat Kompetisi Musim 2026/2027

    September 1, 2026

    Atasi Antrean Panjang, Dishub Samarinda Berlakukan Nomor Antre Solar Subsidi

    September 1, 2026

    Tetapkan Darurat Kekeringan di Samarinda, BPBD Waspadai Karhutla dan Ancaman ISPA

    September 1, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Kesehatan»Luruskan Mitos Medis, Ini Bahaya Plastik Panas hingga Refleks Pencernaan
    Kesehatan

    Luruskan Mitos Medis, Ini Bahaya Plastik Panas hingga Refleks Pencernaan

    Ratu ArifanzaBy Ratu ArifanzaSeptember 1, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Ilustrasi bahaya penggunaan plastik sekali pakai pada bahan makanan dengan suhu panas. (Foto by AI)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Edukasi kesehatan sering kali disampaikan dengan gaya yang terlalu kaku dan formal, sehingga sulit dicerna oleh masyarakat awam. Melalui unggahan di saluran YouTube pribadinya, dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi kembali meluruskan berbagai mitos dan fakta medis yang sering membingungkan masyarakat.

    Mengambil sudut pandang di luar isu multitugas, ia membeberkan fenomena kesehatan harian mulai dari bahaya penggunaan kemasan plastik panas, efek pembakaran kalori saat berolahraga, hingga mekanisme unik pada sistem pencernaan manusia.

    Salah satu topik krusial yang dibahas adalah kebiasaan masyarakat membungkus makanan berkuah panas atau menyeduh minuman panas menggunakan wadah plastik sekali pakai. Menurut dr. Tirta, tindakan tersebut menyimpan bahaya serius karena dapat memicu gangguan hormon pada tubuh. Ketika suhu tinggi mengenai plastik sekali pakai, zat kimia berbahaya seperti BPA dan phthalates akan melarut ke dalam makanan atau minuman tersebut. Zat-zat ini bertindak sebagai endocrine disrupting chemicals yang mengganggu kerja sistem endokrin serta fungsi hormon dalam tubuh manusia.

    Dr. Tirta secara tegas menjelaskan bahaya mikroplastik dan zat kimia tersebut dari sudut pandang medis. “Makanan cair atau berminyak yang panas yang dimasukkan plastik sekali pakai ternyata dapat melarutkan zat kimia berbahaya seperti BPA dan phthalates. Zat-zat ini berfungsi sebagai endocrine disrupting chemical yang bisa meniru atau mengganggu kerja hormon estrogen, tiroid, dan reproduksi dalam tubuh,” ungkapnya.

    Selain masalah kimia makanan, dr. Tirta juga meluruskan persepsi keliru mengenai olahraga intensitas tinggi atau High-Intensity Interval Training (HIIT). Banyak orang percaya bahwa olahraga berat baru mulai membakar kalori setelah 24 jam. Ia menegaskan bahwa anggapan tersebut adalah mitos semata, sebab proses pembakaran kalori sudah berjalan sejak menit pertama aktivitas fisik dimulai. Fenomena pembakaran berlanjut pasca-latihan sebenarnya dipicu oleh mekanisme Excess Post-Exercise Oxygen Consumption (EPOC), di mana tubuh terus mengonsumsi oksigen ekstra untuk memulihkan kondisi fisik sehingga kalori tetap terbakar hingga puluhan jam setelahnya.

    Mengenai fenomena pembakaran energi pasca-olahraga tersebut, ia memaparkan mekanismenya secara rinci. “Pembakaran kalori sudah dimulai sejak menit pertama kita melakukan olahraga tersebut. Tapi buat HIIT atau olahraga intensitas berat, itu akan memicu fenomena yang dinamakan EPOC, yaitu konsumsi oksigen berlebih yang dilakukan oleh tubuh bahkan setelah olahraganya selesai, sehingga konsumsi kalorinya bisa berlangsung 12 sampai 24 jam bahkan 36 jam pasca-latihan,” jelas dr. Tirta.

    Di akhir penjelasannya, dr. Tirta merespons keluhan masyarakat yang kerap merasa ingin langsung buang air besar tidak lama setelah selesai makan. Ia menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah penanda kelainan lambung atau gangguan pencernaan, melainkan respons alami tubuh yang disebut refleks gastrokolik. Saat makanan baru masuk ke lambung, organ tersebut secara otomatis mengirimkan sinyal saraf ke usus besar untuk mengosongkan sisa pakan sebelumnya agar kapasitas pencernaan tetap optimal. Selama tekstur feses yang dikeluarkan berada dalam kondisi normal dan tidak disertai rasa mulas berlebih atau diare cair, kondisi tersebut sepenuhnya aman dan fisiologis.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Ratu Arifanza

    Related Posts

    Asap Karhutla Mengancam, Istri Wagub Kaltim Bagikan 500 Masker dan Siapkan Bantuan Relawan

    Agustus 31, 2026

    Efisiensi Anggaran Jadi Kunci Pembangunan Empat Fasilitas Kesehatan di Samarinda

    Agustus 31, 2026

    ISPA Samarinda Naik 22 Persen pada Agustus, Dinkes Ingatkan Warga Waspada di Tengah Musim Kering

    Agustus 31, 2026

    Dewan Dorong Layanan Kesehatan Naik Kelas, Fasilitas Terus Diperkuat

    Agustus 31, 2026

    Warga Diminta Waspada Debu, Kemarau Picu Kasus ISPA Meningkat hingga 20 Persen

    Agustus 30, 2026

    Debu dan Asap Makin Pekat, Kasus ISPA di Samarinda Naik 22,8 Persen

    Agustus 29, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Tiga Rekrutan Baru Borneo FC dan Ambisi Menembus Empat Kompetisi Musim 2026/2027

    Ratu ArifanzaSeptember 1, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Borneo FC Samarinda terus mematangkan skuad untuk menghadapi musim kompetisi 2026/2027 yang…

    Atasi Antrean Panjang, Dishub Samarinda Berlakukan Nomor Antre Solar Subsidi

    September 1, 2026

    Tetapkan Darurat Kekeringan di Samarinda, BPBD Waspadai Karhutla dan Ancaman ISPA

    September 1, 2026

    Karhutla Samarinda Capai 127 Kejadian, Luas Lahan Terbakar Tembus 211 Hektare

    September 1, 2026

    Jukir Liar Menjamur di Sekitar Masjid Raya, Dishub Soroti Kebiasaan Parkir

    September 1, 2026
    1 2 3 … 3,313 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.