Insitekaltim, Samarinda – Edukasi kesehatan sering kali disampaikan dengan gaya yang terlalu kaku dan formal, sehingga sulit dicerna oleh masyarakat awam. Melalui unggahan di saluran YouTube pribadinya, dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi kembali meluruskan berbagai mitos dan fakta medis yang sering membingungkan masyarakat.
Mengambil sudut pandang di luar isu multitugas, ia membeberkan fenomena kesehatan harian mulai dari bahaya penggunaan kemasan plastik panas, efek pembakaran kalori saat berolahraga, hingga mekanisme unik pada sistem pencernaan manusia.
Salah satu topik krusial yang dibahas adalah kebiasaan masyarakat membungkus makanan berkuah panas atau menyeduh minuman panas menggunakan wadah plastik sekali pakai. Menurut dr. Tirta, tindakan tersebut menyimpan bahaya serius karena dapat memicu gangguan hormon pada tubuh. Ketika suhu tinggi mengenai plastik sekali pakai, zat kimia berbahaya seperti BPA dan phthalates akan melarut ke dalam makanan atau minuman tersebut. Zat-zat ini bertindak sebagai endocrine disrupting chemicals yang mengganggu kerja sistem endokrin serta fungsi hormon dalam tubuh manusia.
Dr. Tirta secara tegas menjelaskan bahaya mikroplastik dan zat kimia tersebut dari sudut pandang medis. “Makanan cair atau berminyak yang panas yang dimasukkan plastik sekali pakai ternyata dapat melarutkan zat kimia berbahaya seperti BPA dan phthalates. Zat-zat ini berfungsi sebagai endocrine disrupting chemical yang bisa meniru atau mengganggu kerja hormon estrogen, tiroid, dan reproduksi dalam tubuh,” ungkapnya.
Selain masalah kimia makanan, dr. Tirta juga meluruskan persepsi keliru mengenai olahraga intensitas tinggi atau High-Intensity Interval Training (HIIT). Banyak orang percaya bahwa olahraga berat baru mulai membakar kalori setelah 24 jam. Ia menegaskan bahwa anggapan tersebut adalah mitos semata, sebab proses pembakaran kalori sudah berjalan sejak menit pertama aktivitas fisik dimulai. Fenomena pembakaran berlanjut pasca-latihan sebenarnya dipicu oleh mekanisme Excess Post-Exercise Oxygen Consumption (EPOC), di mana tubuh terus mengonsumsi oksigen ekstra untuk memulihkan kondisi fisik sehingga kalori tetap terbakar hingga puluhan jam setelahnya.
Mengenai fenomena pembakaran energi pasca-olahraga tersebut, ia memaparkan mekanismenya secara rinci. “Pembakaran kalori sudah dimulai sejak menit pertama kita melakukan olahraga tersebut. Tapi buat HIIT atau olahraga intensitas berat, itu akan memicu fenomena yang dinamakan EPOC, yaitu konsumsi oksigen berlebih yang dilakukan oleh tubuh bahkan setelah olahraganya selesai, sehingga konsumsi kalorinya bisa berlangsung 12 sampai 24 jam bahkan 36 jam pasca-latihan,” jelas dr. Tirta.
Di akhir penjelasannya, dr. Tirta merespons keluhan masyarakat yang kerap merasa ingin langsung buang air besar tidak lama setelah selesai makan. Ia menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah penanda kelainan lambung atau gangguan pencernaan, melainkan respons alami tubuh yang disebut refleks gastrokolik. Saat makanan baru masuk ke lambung, organ tersebut secara otomatis mengirimkan sinyal saraf ke usus besar untuk mengosongkan sisa pakan sebelumnya agar kapasitas pencernaan tetap optimal. Selama tekstur feses yang dikeluarkan berada dalam kondisi normal dan tidak disertai rasa mulas berlebih atau diare cair, kondisi tersebut sepenuhnya aman dan fisiologis.

