Insitekaltim, Samarinda – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 28 Samarinda mendapat respons positif dari siswa. Sejak mulai didistribusikan pada 13 Juli 2026, tingkat konsumsi makanan yang dibagikan disebut mencapai lebih dari 98 persen.
Kepala SMP Negeri 28 Samarinda Agus mengatakan, tingginya konsumsi tersebut terlihat dari sedikitnya makanan yang tersisa setelah dibagikan kepada siswa. Dalam setiap kelas, rata-rata hanya sekitar dua hingga tiga siswa yang mengembalikan sisa makanan.
Menurutnya, antusiasme siswa terhadap MBG bahkan terlihat sebelum waktu makan tiba. Sejumlah siswa kerap menunggu di lobi dan menanyakan kapan makanan dibagikan.
“Anak-anak juga pada senang. Bahkan sebelum jam istirahat, kalau misalkan jam olahraga itu, kadang-kadang sudah ke lobi nunggu, ‘jam MBG-nya kapan, Pak?’,” ujarnya di ruang kepala sekolah SMPN 28 Samarinda, Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang, Rabu, 12 Agustus 2026.
Agus menyebut kondisi tersebut menunjukkan MBG memang dibutuhkan oleh sebagian siswa SMPN 28 Samarinda. Hingga saat ini, sekolah juga belum menerima keluhan negatif yang berarti terkait pelaksanaan program tersebut.
“Alhamdulillah juga sampai saat ini belum ada keluhan-keluhan yang negatif. Artinya tanggapan-tanggapannya bagus, malah bahkan selalu menunggu,” sebutnya.
Saat ini, pihak SPPG mengantarkan 488 porsi MBG ke SMPN 28 Samarinda. Jumlah tersebut masih menggunakan data lama sebelum terdapat enam siswa yang pindah dan satu siswa yang meninggal dunia.
Berdasarkan data tersebut, penerima terdiri dari 462 siswa serta 26 guru dan staf tata usaha, dengan satu porsi tambahan sebagai sampel sehingga total yang dikirim menjadi 488 porsi.
Tak hanya siswa, Agus mengaku pemberian MBG kepada guru dan staf juga membantu aktivitas pembelajaran. Guru tidak perlu meninggalkan sekolah untuk mencari makan siang sehingga kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.
“Dengan MBG ini ya nggak perlu lagi mereka keluar. Kadang-kadang ada yang izin, ‘Pak saya mau makan siang dulu.’ Dengan MBG ini ya nggak perlu lagi,” jelasnya.
Program tersebut juga dinilai membantu meringankan pengeluaran orang tua. Agus menuturkan sejumlah orang tua menyampaikan tanggapan positif melalui grup kelas karena anak-anak tidak lagi membutuhkan uang makan sebanyak sebelumnya.
“Paling yang jauh-jauh rumahnya, Rp10 ribu itu pun hanya digunakan untuk beli es misalnya atau beli minuman. Karena sudah disiapkan MBG pada siang hari,” ungkapnya.
Untuk memastikan makanan yang diterima layak dikonsumsi, sekolah melakukan pengecekan melalui sampel makanan yang disiapkan khusus. Setelah makanan tiba, sampel tersebut diperiksa terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada siswa.
Selain itu, guru yang ditunjuk juga memantau kondisi siswa ketika makanan disantap di kelas. Pihak SPPG juga telah menerima informasi mengenai siswa yang memiliki alergi terhadap bahan makanan tertentu.
“Misalkan hari ini menunya telur, ada yang alergi telur. Mereka sudah siapkan menu yang lain,” terangnya.
Meski demikian, Agus mengakui sempat terdapat keluhan dari siswa terkait makanan. Namun, jumlahnya sangat kecil dan sebagian terjadi karena siswa melihat kondisi makanan secara sekilas.
Ia mencontohkan pernah ada siswa yang menganggap telur yang diterima dalam kondisi kurang baik. Setelah menerima laporan, pihaknya langsung mengganti karena sekolah memiliki porsi cadangan dari lebihan, termasuk jika ada siswa yang tidak masuk sekolah.
“Pada dasarnya kalau kita dari pihak sekolah, ya tetap kita berharap supaya bisa tetap berlanjut. Karena memang kondisi anak-anak kita, seperti yang saya katakan tadi, bahwa memang mereka membutuhkan,” pungkasnya.
Putra, salah satu siswa mengaku senang dengan adanya program MBG, terutama ketika menu ayam dibagikan. Rizky pun menyampaikan hal yang sama.
Ia menyebut menu telur menjadi salah satu makanan yang paling disukainya. Keduanya mengatakan makanan biasanya dibagikan mendekati waktu makan siang.

