Insitekaltim, Samarinda – Anak-anak di Kota Samarinda diperkirakan memiliki peluang menempuh pendidikan hingga 15,41 tahun atau setara awal jenjang perguruan tinggi. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada tingkat pendidikan penduduk saat ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda mencatat rata-rata lama sekolah warga baru mencapai 11,04 tahun atau setara kelas XI SMA.
Selisih lebih dari empat tahun antara harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah menunjukkan bahwa akses pendidikan di Samarinda terus membaik. Meski demikian, tidak seluruh penduduk mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
Kepala BPS Kota Samarinda Supriyanto mengatakan, tren peningkatan harapan lama sekolah berlangsung secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut didukung oleh semakin luasnya akses pendidikan, bertambahnya fasilitas sekolah, serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.
“Harapan lama sekolah maupun rata-rata lama sekolah trennya memang selalu meningkat. Itu sejalan dengan program pendidikan, penyediaan fasilitas sekolah, dan kesadaran masyarakat terhadap pendidikan anak,” kata Supriyanto kepada Insitekaltim, Sabtu, 25 Juli 2026.
Ia menjelaskan, rata-rata lama sekolah sebesar 11,04 tahun menggambarkan jenjang pendidikan yang telah ditempuh penduduk berusia 25 tahun ke atas. Sementara itu, harapan lama sekolah sebesar 15,41 tahun merupakan perkiraan lamanya pendidikan yang akan ditempuh anak berusia tujuh tahun apabila pola pendidikan saat ini tetap berlangsung.
Menurut Supriyanto, posisi Samarinda sebagai pusat pendidikan di Kaltim turut berkontribusi terhadap capaian tersebut. Setiap tahun, lulusan SMA dari berbagai kabupaten dan kota datang ke Samarinda untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi sehingga turut memengaruhi indikator pendidikan daerah.
“Samarinda kita tahu sebagai kota pendidikan. Banyak lulusan SMA dari kabupaten dan kota lain melanjutkan kuliah ke Samarinda. Itu ikut mendorong perkembangan indikator pendidikan di kota ini,” ujarnya.
Meski menunjukkan tren positif, Supriyanto mengingatkan bahwa indikator tersebut tidak dapat dibaca secara terpisah. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, BPS juga mencatat masih terjadi penurunan angka partisipasi murni pada beberapa jenjang pendidikan.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa tantangan di sektor pendidikan belum sepenuhnya teratasi. Pemerintah masih perlu memastikan anak-anak tidak hanya memiliki peluang bersekolah lebih lama, tetapi juga mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
“Data yang kami sajikan merupakan potret kondisi di lapangan. Harapannya tentu bisa menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran,” tutupnya.

