Insitekaltim, Samarinda – Kepala BKKBN Kalimantan Timur (Kaltim) Sunarto mengatakan upaya percepatan penurunan stunting ke depan akan lebih memperkuat intervensi non-nutrisi, seperti perbaikan sanitasi dan rumah tidak layak huni (RTLH).
Ia mengaku, pendekatan tersebut dilakukan berdasarkan hasil kajian yang menunjukkan bahwa penyebab stunting tidak hanya dipengaruhi oleh asupan gizi, tetapi juga faktor lingkungan.
“Pergeseran intervensi ini ada dasarnya, sekitar 30 persen dipengaruhi nutrisi dan 70 persen non-nutrisi. Salah satunya rumah tidak layak huni dan akses sanitasi yang kurang baik. Ke depan kita akan geser ke sana,” ujarnya saat penyerahan bantuan Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) PT PLN UP3 Samarinda di Aula PLN UP3 Samarinda Jalan Gajah Mada, Senin, 20 Juli 2026.
Sunarto menjelaskan, pemenuhan nutrisi tetap menjadi bagian penting dalam pencegahan stunting. Namun, saat ini dukungan gizi telah diperkuat melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menjangkau sedikitnya 300 kelompok sasaran di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Meski demikian, ia menegaskan periode paling menentukan dalam mencegah stunting tetap berada pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia 24 bulan.
“Konsep intervensi stunting adalah 1.000 hari pertama kehidupan. Sangat tepat ketika di dalam juknis MBG dimulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita hingga PAUD. Sampai usia 24 bulan itulah masa yang sangat krusial karena pertumbuhan otak mencapai sekitar 85 persen,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan capaian Program Genting di Kota Samarinda terus menunjukkan perkembangan. Dari target 464 keluarga berisiko stunting yang menjadi sasaran, sebanyak 372 keluarga telah mendapat intervensi atau mencapai 80,2 persen. Program tersebut didukung oleh 80 orang tua asuh atau mitra dengan total bantuan sebesar Rp297,6 juta.
“Kalau melihat perjalanan ini sudah sangat luar biasa. Mudah-mudahan kolaborasi ini terus berlanjut sehingga Samarinda dalam 15 hingga 20 tahun ke depan mampu mencetak generasi unggul. Hasil karya kita hari ini baru akan benar-benar terasa di masa mendatang,” harapnya.
Sementara itu, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Kaltim dan Kaltara Muchamad Chaliq Fadli menyampaikan melalui Program Genting, PLN ingin memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat, tidak hanya melalui layanan kelistrikan.
“Tak hanya listrik, tetapi juga menghadirkan manfaat lain melalui berbagai program sosial. Kami percaya kepedulian yang dilakukan bersama akan memberikan perubahan besar. Investasi terbaik dimulai dari anak agar Indonesia memiliki generasi yang sehat dan cerdas,” yakinnya.
Dalam kesempatan tersebut, PLN menyalurkan bantuan senilai Rp51 juta kepada 21 penerima manfaat yang merupakan balita di Kecamatan Samarinda Ulu.
“Kami berharap bantuan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi anak penerima manfaat sekaligus menjadi motivasi agar tumbuh kembang anak berlangsung optimal,” ucapnya.
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri menerangkan, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan usianya, melainkan menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Anak yang mengalami stunting berpotensi menghadapi hambatan perkembangan otak. Karena itu bantuan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pemenuhan gizi anak,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh orang tua untuk menerapkan pola makan bergizi seimbang, menjaga kebersihan lingkungan, serta rutin memanfaatkan layanan posyandu agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dipantau secara optimal oleh tenaga kesehatan.
Saefuddin menambahkan, layanan posyandu di Samarinda telah tersedia, namun partisipasi masyarakat masih perlu ditingkatkan.
“Kadang masyarakat enggan datang ke posyandu, terutama keluarga yang kurang mampu. Saya berharap lurah dan kader posyandu bisa menjemput bola, mengajak anak-anak yang membutuhkan agar rutin datang ke posyandu sehingga kesehatannya terus terpantau,” pintanya.
Ia berharap sinergi pemerintah, dunia usaha dan masyarakat terus diperkuat agar upaya percepatan penurunan stunting di Samarinda dapat berjalan lebih optimal, terutama di tengah kondisi fiskal daerah yang sedang mengalami penurunan.

