Insitekaltim, Samarinda – Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim Awang Khaliq mengatakan, sebagai pusat aktivitas ekonomi kreatif di Kalimantan Timur (Kaltim), Temindung Creative Hub (TCH) di kawasan eks Bandara Temindung terus dikembangkan.
Meski telah rutin dimanfaatkan berbagai komunitas, sejumlah sarana dan prasarana dinilai masih perlu dilengkapi agar fungsi ruang kreatif tersebut semakin optimal.
Ia mengatakan, kebutuhan terbesar saat ini berada pada kelengkapan fasilitas pendukung, khususnya untuk subsektor musik dan ruang pamer.
Menurutnya, studio musik yang tersedia sudah dapat digunakan untuk proses rekaman.
Namun masih kekurangan sejumlah peralatan penunjang seperti perangkat mastering, sound system, mikrofon, hingga perlengkapan audio lainnya.
“Banyak yang masih perlu dibenahi, terutama sarana dan prasarana. Studio musik sudah ada, tetapi peralatan mastering, sound system, mikrofon, dan perlengkapan lainnya masih belum lengkap,” ujarnya ditemui di Temindung Creative Hub, Samarinda, Rabu, 15 Juli 2026.
Selain itu, penataan ruang di dalam gedung juga terus disesuaikan agar lebih efektif. Salah satunya dengan memindahkan ruang tunggu ke sisi bangunan. Sehingga area utama dapat difungsikan, sebagai ruang pamer karya seni, termasuk untuk memajang lukisan dan hasil karya kreatif lainnya.
Meski masih membutuhkan penyempurnaan fasilitas, aktivitas di Temindung Creative Hub terus berjalan. Setiap hari, ruang tersebut dimanfaatkan oleh berbagai komunitas kreatif untuk pelatihan maupun kegiatan pengembangan kapasitas.
Salah satunya adalah pelatihan subsektor fesyen yang bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP), meliputi pelatihan menjahit dan desain busana.
Awang menilai ,subsektor seni pertunjukan memiliki efek berganda terhadap perkembangan ekonomi kreatif karena mampu mendorong tumbuhnya subsektor lain seperti musik, desain, hingga fesyen.
Untuk mendukung aktivitas komunitas, Dispar Kaltim, juga menjalankan program Ruang Ekraf Pekan yang digelar rutin setiap akhir bulan.
Program tersebut memberikan ruang bagi komunitas untuk menampilkan karya sekaligus menggelar berbagai kegiatan kreatif.
Selain menyediakan lokasi, pemerintah juga memberikan dukungan anggaran secara terbatas sesuai kemampuan daerah.
“Kami membantu tempat dan sebagian pendanaan. Misalnya kebutuhan kegiatan Rp150 juta, kami mungkin membantu sekitar Rp30 juta, sementara sisanya kami dorong agar dicari melalui sponsor seperti BI, Bankaltimtara, BUMD, maupun pihak lainnya,” jelas Awang.
Ia berharap, pola kolaborasi tersebut dapat membuat komunitas ekonomi kreatif semakin mandiri, tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Kalimantan Timur.

