Bagi banyak orang, susu menjadi minuman yang hampir selalu tersedia di rumah. Mulai dari anak-anak, hingga orang dewasa.
Susu kerap dikonsumsi untuk melengkapi kebutuhan nutrisi harian. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami, tidak semua susu diproses dengan cara yang sama.
Perbedaan paling sering, menimbulkan kebingungan adalah antara susu segar pasteurisasi dan susu UHT (Ultra High Temperature). Keduanya sama-sama berasal dari susu sapi, tetapi memiliki proses pengolahan, cara penyimpanan, hingga masa simpan yang berbeda.
Dokter sekaligus entrepreneur Tirta Mandira Hudhi mengatakan, masih banyak masyarakat yang salah memahami perbedaan kedua jenis susu tersebut.
Bahkan, tidak sedikit yang mempertanyakan mengapa ada susu yang harus disimpan di lemari pendingin, sementara produk lainnya dapat diletakkan di rak biasa.
Menurutnya, perbedaan tersebut berkaitan langsung dengan proses pengolahan, yang diterapkan pada masing-masing produk.
Susu Pasteurisasi, Wajib Disimpan Dingin
Susu pasteurisasi, merupakan susu segar yang dipanaskan dalam waktu singkat. Pada suhu tertentu, untuk membunuh mikroorganisme yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Karena proses pemanasannya relatif ringan, berbagai kandungan alami dalam susu, termasuk sejumlah mikronutrien, cenderung tetap terjaga.
Namun, proses yang minimal tersebut, membuat susu pasteurisasi harus selalu disimpan pada suhu dingin.
Penyimpanan di dalam lemari pendingin bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan. Untuk menjaga kualitas susu dan mencegah, pertumbuhan mikroorganisme yang masih mungkin berkembang jika disimpan pada suhu ruang.
Inilah alasan mengapa susu pasteurisasi selalu ditempatkan di dalam kulkas atau lemari pendingin di minimarket maupun supermarket.
Susu UHT Lebih Awet
Berbeda dengan susu pasteurisasi, susu UHT diproses menggunakan suhu yang sangat tinggi dalam waktu singkat.
Metode ini, mampu membunuh hampir seluruh mikroorganisme. Sehingga produk memiliki masa simpan, yang jauh lebih panjang.
Karena telah melalui proses sterilisasi suhu tinggi, susu UHT dapat disimpan pada suhu ruang selama kemasannya masih tertutup rapat dan belum dibuka.
Keunggulan ini membuat susu UHT menjadi pilihan praktis, bagi masyarakat yang membutuhkan produk. Dengan daya simpan lebih lama atau ingin menyimpan, stok susu tanpa memerlukan ruang pendingin.
Mana yang Lebih Baik?
Banyak orang beranggapan, bahwa salah satu jenis susu lebih baik dibandingkan yang lain.
Padahal, menurut para ahli gizi, keduanya tetap dapat menjadi sumber nutrisi yang baik. Selama diproduksi dengan standar keamanan pangan yang tepat.
Pilihan antara susu pasteurisasi dan susu UHT sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Bagi yang mengutamakan kesegaran dan proses pengolahan minimal, susu pasteurisasi bisa menjadi pilihan.
Sementara bagi mereka yang membutuhkan kepraktisan dan masa simpan lebih panjang, susu UHT dapat menjadi alternatif yang sesuai.
Selain memahami jenis pengolahannya, konsumen juga disarankan untuk memperhatikan komposisi dan asal produk yang dibeli.
Memilih susu yang menggunakan bahan baku berkualitas, diproduksi secara higienis, serta memiliki sistem pengawasan yang baik menjadi faktor penting untuk mendapatkan manfaat nutrisi secara optimal.
Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, masyarakat perlu lebih kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai klaim yang belum tentu benar.
Memahami perbedaan susu pasteurisasi dan susu UHT dapat membantu konsumen menentukan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi keluarga.

