Insitekaltim, Samarinda – Di tengah pesatnya perkembangan transaksi digital, pembayaran menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Mulai dari membeli makanan, membayar parkir, hingga berbelanja kebutuhan harian cukup dengan memindai kode QR melalui ponsel dan transaksi dapat selesai dalam hitungan detik.
Kemudahan tersebut membuat masyarakat semakin terbiasa meninggalkan uang tunai. Namun di balik kenyamanan itu, sejumlah penelitian menunjukkan adanya fenomena psikologis yang membuat uang digital terasa lebih mudah dibelanjakan dibandingkan uang fisik.
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai cashless effect. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Retailing pada 2024 menemukan bahwa konsumen cenderung mengeluarkan lebih banyak uang saat menggunakan metode pembayaran nontunai dibandingkan uang tunai.
Fenomena tersebut berkaitan dengan teori pain of paying yang diperkenalkan oleh profesor ekonomi dan psikologi dari Drazen Prelec dan George Loewenstein dimana teori ini menjelaskan bahwa seseorang mengalami semacam “rasa sakit” psikologis ketika mengeluarkan uang.
Saat membayar menggunakan uang tunai, seseorang dapat melihat dan merasakan langsung jumlah uang yang berpindah dari dompetnya. Sebaliknya, pembayaran digital berlangsung lebih cepat dan minim gesekan sehingga pengeluaran terasa kurang nyata. Akibatnya, seseorang bisa lebih mudah melakukan pembelian tanpa banyak pertimbangan.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology juga menemukan bahwa pembayaran melalui perangkat digital dapat mengurangi pain of paying. Bahkan, dalam beberapa kasus, kemudahan transaksi justru menciptakan pengalaman yang menyenangkan sehingga mendorong keinginan untuk berbelanja lebih banyak.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa teknologi pembayaran digital bukanlah penyebab utama seseorang menjadi boros. Faktor yang lebih menentukan adalah kebiasaan pengelolaan keuangan, kemampuan mengendalikan diri serta tingkat literasi finansial masing-masing individu.
Perencana keuangan menilai pembayaran digital seperti QRIS justru dapat membantu masyarakat mencatat pengeluaran dengan lebih rapi karena seluruh transaksi tersimpan dalam aplikasi. Fitur tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi pola konsumsi dan menyusun anggaran bulanan yang lebih terukur.
Di era transaksi serba cepat, tantangan terbesar bukan lagi membawa uang tunai dalam dompet, melainkan menjaga kesadaran terhadap setiap rupiah yang dibelanjakan. Sebab, ketika proses pembayaran semakin mudah, kemampuan mengendalikan pengeluaran menjadi semakin penting.

