Insitekaltim, Samarinda – Program Pendidikan Gratispol yang telah menyerap anggaran ratusan miliar rupiah di Kalimantan Timur (kaltim) diakui masih menyisakan sejumlah kekurangan dalam pelaksanaannya, meski telah menjangkau puluhan ribu mahasiswa.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menyampaikan, hingga 2026 program tersebut telah berjalan dan memberikan manfaat nyata.Namun, tetap membutuhkan evaluasi dan penyempurnaan agar lebih tepat sasaran.
Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan secara daring dalam kegiatan sosialisasi dan diskusi program Gratispol di Politeknik Negeri Samarinda (Polnes), Selasa 14 April 2026.
Dalam paparannya dijelaskan, pada tahap pertama 2026 bantuan telah disalurkan kepada 1.683 mahasiswa dengan nilai sekitar Rp7,42 miliar. Sementara pada tahap kedua, bantuan diberikan kepada 192 mahasiswa dengan nilai sekitar Rp6,48 miliar.
Secara keseluruhan, program Gratispol di tingkat provinsi telah menjangkau sekitar 48.675 mahasiswa dengan total anggaran lebih dari Rp220 miliar.
“Ini menunjukkan bahwa program ini berjalan secara nyata, terukur, dan terus kita perluas secara bertahap,” ujarnya.
Meski capaian tersebut cukup besar, Rudy tidak menampik masih adanya kekurangan dalam implementasi program. Ia menegaskan bahwa perbaikan akan terus dilakukan agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.
“Yang terpenting program ini sudah berjalan. Ke depan akan terus kita perbaiki dan kita upgrade agar manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, pendidikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar beban anggaran. Setiap dana yang digelontorkan diyakini akan berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah.
“Setiap rupiah yang kita keluarkan hari ini adalah investasi untuk menciptakan tenaga kerja yang terampil dan menjadi penggerak ekonomi daerah,” katanya.
Lebih lanjut, Pemprov Kaltim menargetkan akses pendidikan gratis dapat dirasakan secara luas oleh seluruh anak di daerah, termasuk melalui penguatan pendidikan vokasi seperti di Polnes.
Ia menekankan, lulusan pendidikan vokasi diharapkan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru.
“Kami ingin lulusan tidak hanya mencari kerja, tapi juga menjadi inovator dan pencipta lapangan kerja,” ujarnya.
Rudy juga membuka ruang kolaborasi dengan kalangan akademisi dan mahasiswa untuk memberikan masukan demi penyempurnaan program Gratispol.
“Kami ingin mendengar masukan dan ide dari akademisi dan mahasiswa agar program ini benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan,” ungkapnya.
Di akhir sambutannya, ia mendorong mahasiswa untuk memiliki visi besar dan berani mengambil peran sebagai pemimpin di masa depan.
“Mahasiswa harus punya semangat menjadi leader, bukan sekadar follower,” pungkasnya.

