Insitekaltim, Samarinda – Penerapan sistem parkir non tunai (cashless) di kawasan Pasar Pagi Samarinda masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari persoalan teknis pembayaran hingga keterbatasan kapasitas parkir, khususnya untuk kendaraan roda empat.
Sejak diberlakukan, pengunjung Pasar Pagi diwajibkan menggunakan metode pembayaran non tunai seperti QRIS maupun kartu elektronik (tap cash). Namun pada tahap awal implementasi, kebijakan ini sempat menuai polemik di masyarakat, terutama terkait besaran tarif parkir yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Tarif yang terpasang di area parkir bukanlah tarif normal, melainkan tarif maksimal yang dikenakan kepada pengguna yang tidak menggunakan sistem pembayaran non tunai.
“Tarif itu bukan tarif parkir yang berlaku umum, tetapi tarif maksimal bagi masyarakat yang masuk area parkir tanpa menggunakan QRIS atau kartu tap cash,” ujar Petugas Pengelola Parkir Nu’man, Selasa, 13 Januari 2026.
Selain persoalan tarif, kendala teknis juga masih terjadi pada penggunaan kartu elektronik tertentu. Saat ini, kartu Brizzi belum dapat digunakan lantaran sistem dari pihak vendor dan jaringan PT terkait masih dalam proses pembaruan.
Sementara itu, kartu Mandiri e-money dan BNI TapCash sudah dapat digunakan oleh pengunjung.
“Kartu Brizzi memang belum bisa digunakan karena server dari vendornya belum tersedia. Saat ini masih dalam tahap pembaruan sistem,” jelasnya.
Dari sisi pemahaman masyarakat, sebagian pengunjung juga dinilai belum sepenuhnya memahami mekanisme parkir cashless. Meski demikian, seiring berjalannya waktu, mayoritas pengunjung mulai beralih menggunakan pembayaran non tunai karena pembayaran tunai langsung dikenakan tarif maksimal.
Untuk kendaraan roda dua, tarif maksimal ditetapkan sebesar Rp10.000, sedangkan kendaraan roda empat sebesar Rp25.000.
“Sejauh ini pengunjung lebih banyak menggunakan QRIS dan tap cash. Pembayaran tunai relatif sedikit karena langsung dikenakan tarif maksimal,” katanya.
Kendala lain yang cukup menonjol adalah keterbatasan kapasitas parkir kendaraan roda empat. Pada hari libur, khususnya Minggu, lonjakan pengunjung menyebabkan area parkir mobil cepat penuh, meski tidak seluruh pedagang beroperasi.
Apabila kapasitas parkir penuh, petugas mengarahkan pengunjung untuk memarkir kendaraan di area alternatif, yakni Masjid Raya Samarinda. Kebijakan tersebut bersifat sementara sambil menunggu solusi jangka panjang terkait penambahan atau penataan ulang kapasitas parkir.
Sementara itu, untuk parkir kendaraan roda dua dinilai tidak mengalami kendala berarti. Area parkir sepeda motor masih mencukupi dan dapat menampung kendaraan, baik di lantai satu maupun lantai dua.
“Untuk roda dua tidak ada masalah yang menjadi perhatian utama saat ini adalah parkir untuk roda empat,” pungkasnya.
