Insitekaltim, Samarinda — Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda Barlin Hady Kesuma menegaskan, regenerasi penenun masih menjadi tantangan utama dalam pelestarian Sarung Samarinda meski jumlah penenun kini mulai stabil pascapandemi.
Barlin menjelaskan, aktivitas penenunan Sarung Samarinda terpusat di Kampung Tenun Samarinda Seberang, yang sekitar 90 persen penduduknya berprofesi sebagai penenun dan pengrajin. Sebelum pandemi Covid-19, jumlah penenun mencapai sekitar 360 orang, namun sempat menurun drastis dan kini stabil di angka 120 penenun aktif.
“Dari 120 penenun tersebut, sekitar 70 persen masih didominasi usia di atas 40 tahun, sementara 30 persen berasal dari generasi yang lebih muda,” ujar Barlin, Sabtu, 10 Januari 2026.
Menurutnya, regenerasi penenun saat ini masih berlangsung secara turun-temurun dalam keluarga. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda berperan memfasilitasi melalui pelatihan, bantuan bahan, serta dukungan fasilitas produksi agar Kampung Tenun tetap bertahan dan mampu memenuhi permintaan pasar, baik dari dalam maupun luar daerah.
Selain regenerasi, pelestarian Sarung Samarinda juga dilakukan melalui penguatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sejumlah unit usaha seperti Rumah Tenun Rahma Dina menaungi para pengrajin rumahan yang mengerjakan seluruh proses produksi, mulai dari pewarnaan benang, penenunan, hingga pengemasan.
“UMKM ini mendapat dukungan dari Pemkot Samarinda dan pihak ketiga, seperti Bank Indonesia, yang rutin memberikan pelatihan, termasuk peningkatan kualitas kemasan,” jelasnya.
Barlin menambahkan, Pemkot Samarinda tidak hanya melindungi produknya, tetapi juga motif Sarung Samarinda. Motif-motif lama maupun baru telah didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Komunal agar memiliki perlindungan hukum dan tidak digunakan tanpa izin.
Terkait bahan baku, khususnya benang sutra untuk sarung premium, Barlin mengakui masih menjadi kendala karena ketergantungan pada bahan impor. Hal tersebut membuat harga tidak stabil dan sulit dipenuhi secara massal.
“Benang sutra belum diproduksi di dalam negeri dan kebutuhannya bersaing dengan pengrajin sarung dari seluruh Nusantara,” katanya.
Sebagai langkah adaptif, para penenun melakukan inovasi dengan menggunakan bahan katun agar produksi tetap berjalan. Sementara itu, pemerintah terus mengupayakan fasilitasi pengadaan bahan baku agar ke depan sarung premium dapat diproduksi lebih optimal.
Ke depan, Barlin menyebutkan bahwa pelestarian dan regenerasi akan diperkuat melalui jalur pendidikan dengan mendorong Sarung Samarinda masuk ke dalam muatan lokal di sekolah-sekolah. Dengan demikian, generasi muda diharapkan mengenal proses pembuatan, pewarnaan, serta filosofi Sarung Samarinda sejak dini.
“Harapannya, Sarung Samarinda tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi benar-benar menjadi identitas Kota Samarinda yang hidup dan dibanggakan lintas generasi,” pungkasnya.
