Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Titik Panas Karhutla Kaltim Turun dari 600 ke 300, Asap Masih Bertahan

    Oktober 21, 2026

    Disdikbud Kaltim Siapkan PJJ Lagi Jika Asap Karhutla Memburuk, Kutim dan Berau Masih Belajar dari Rumah

    Oktober 21, 2026

    Status Darurat Karhutla Samarinda Dievaluasi, Pemkot Pantau Kualitas Udara dan Ketersediaan Air

    Oktober 21, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Advertorial»DPRD Kaltim»Banjir Berau, Sya’diah Sebut Lemahnya Pengawasan Lingkungan dan Buruknya Tata Kelola Tambang
    DPRD Kaltim

    Banjir Berau, Sya’diah Sebut Lemahnya Pengawasan Lingkungan dan Buruknya Tata Kelola Tambang

    MartinusBy MartinusMei 27, 202503 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Syarifatul Sya’diah
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Banjir yang melanda Kabupaten Berau pada Mei 2025 tak bisa lagi semata-mata disalahkan pada cuaca ekstrem. Derasnya air yang merendam 17 kampung di empat kecamatan dinilai sebagai akibat langsung dari lemahnya pengawasan serta buruknya tata kelola pertambangan di wilayah tersebut.

    Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Syarifatul Sya’diah. Ia menilai bencana banjir ini merupakan akumulasi dari kerusakan lingkungan yang terus terjadi tanpa kontrol yang ketat, terutama pada kawasan hulu yang menjadi lokasi aktivitas tambang.

    “Kalau kami melihat, ini fenomena alam yang penyebabnya bermacam-macam. Salah satunya curah hujan tinggi di daerah hulu, dan juga faktor tambang ilegal. Tambang yang legal pun barangkali ikut menyumbang,” ujar Syarifatul kepada wartawan di Samarinda, Senin, 26 Mei 2025.

    Menurutnya, banjir kali ini bukanlah kejadian biasa, melainkan peringatan serius akan ketidaksiapan struktur lingkungan menghadapi tekanan dari aktivitas industri, terutama pertambangan.

    Ia menyebut, tambang-tambang yang beroperasi tanpa reklamasi yang baik telah menyebabkan air hujan mengalir deras tanpa hambatan ke daerah hilir, mempercepat terjadinya luapan air dan merendam permukiman.

    “Tambang-tambang itu harus dievaluasi lagi agar tidak menyebabkan bencana seperti banjir dan tanah longsor. Ini jadi tugas penting Pemprov Kaltim karena kewenangan tambang ada di provinsi,” katanya lagi.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau mencatat hingga pertengahan Mei 2025, sebanyak 17 kampung di Kecamatan Sambaliung, Segah, Kelay, dan Teluk Bayur terdampak banjir. Sedikitnya 3.993 kepala keluarga atau sekitar 12.025 jiwa harus menghadapi dampak langsung bencana ini. Ketinggian air yang mencapai hingga 3 meter di beberapa titik tak hanya merendam rumah warga, tetapi juga menghancurkan lahan pertanian dan memutus akses jalan antar kampung.

    Syarifatul menambahkan, banjir serupa tak hanya melanda Berau. Beberapa wilayah lain di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara juga mengalami kondisi yang nyaris sama dalam waktu berdekatan. Fenomena ini, menurutnya, adalah sinyal yang tak bisa diabaikan terkait menurunnya daya dukung lingkungan akibat eksploitasi tambang yang kian tak terkendali.

    “Kalau terus begini, setiap musim hujan kita akan selalu waspada banjir. Ini bukan hanya tentang bencana, tapi juga soal keberlangsungan hidup masyarakat dan daerah,” ungkapnya.

    Melihat kenyataan tersebut, Syarifatul menegaskan perlunya langkah konkret dan berkelanjutan. Selain evaluasi terhadap perizinan tambang, ia mendorong agar Pemerintah Daerah dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai serius dalam mempercepat diversifikasi ekonomi.

    Ia mengkritik ketergantungan Berau terhadap sektor tambang yang sudah mencapai 67 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebagai salah satu akar persoalan.

    “Kita harus dorong sektor lain seperti pariwisata, pertanian, perikanan, dan UMKM. Potensinya besar tapi belum tergarap maksimal,” jelasnya.

    Ia menyebut sektor kakao di Berau sebagai contoh konkret peluang ekonomi yang mulai tumbuh dan bahkan sudah diminati pasar luar negeri. Namun demikian, pengembangan sektor ini membutuhkan dukungan hilirisasi agar nilai tambah bisa dinikmati langsung oleh masyarakat produsen.

    “Kalau tidak beralih dari tambang, masyarakat akan terus jadi korban. Kita perlu bangun fondasi ekonomi yang lebih berkelanjutan,” tegasnya.

    Komisi III DPRD Kalimantan Timur pun menyerukan agar Pemerintah Provinsi tidak menutup mata terhadap realitas kerusakan lingkungan yang kini menjadi ancaman nyata.

    Evaluasi izin tambang, pengetatan pengawasan, serta pembangunan ekonomi alternatif, tegasnya, harus dilakukan secara bersamaan dan segera. Sebab, banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan cerminan dari krisis ekologis yang telah lama diabaikan.

    Banjir Berau DPRD Kaltim Syarifatul Syadiah Tambang
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Martinus

    Related Posts

    Lima Provinsi di Kalimantan Diusulkan Bersatu Dorong Penanganan Karhutla ke Pusat

    Oktober 19, 2026

    Jahidin Meninggal Dunia, Kaltim Kehilangan Legislator Senior

    Oktober 15, 2026

    Kaltim Masih Bergantung Sapi dari Luar Daerah, 58 Ekor Disalurkan ke Peternak Samarinda

    Oktober 14, 2026

    Helmi Dorong Penguatan Ekonomi Non-Tambang, Imbau Warga Samarinda Waspadai Kebakaran

    Oktober 10, 2026

    Titik Api Karhutla di Kukar Bertambah, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

    Oktober 6, 2026

    PUPR Kaltim Sepakat Cabut Patok di Lahan Warga Jalan Kurnia Makmur dan Blitar

    Oktober 5, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Titik Panas Karhutla Kaltim Turun dari 600 ke 300, Asap Masih Bertahan

    AminahOktober 21, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Penurunan jumlah titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur…

    Disdikbud Kaltim Siapkan PJJ Lagi Jika Asap Karhutla Memburuk, Kutim dan Berau Masih Belajar dari Rumah

    Oktober 21, 2026

    Status Darurat Karhutla Samarinda Dievaluasi, Pemkot Pantau Kualitas Udara dan Ketersediaan Air

    Oktober 21, 2026

    Saefuddin Zuhri: Santri Harus Berilmu, Berakhlak, dan Siap Membawa Perubahan

    Oktober 21, 2026

    Disdukcapil Samarinda Dorong Peremajaan Perangkat KTP-el

    Oktober 21, 2026
    1 2 3 … 3,396 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.