Insitekaltim, Samarinda – Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri mendorong masyarakat, akademisi, dan pemerintah untuk terus melahirkan inovasi yang tidak hanya menjadi gagasan, tetapi mampu memberikan solusi serta manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Saefuddin saat menghadiri lomba inovasi BAIMBAI yang mempertemukan berbagai unsur, mulai dari Aparatur Sipil Negara (ASN), perangkat daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), akademisi hingga masyarakat umum, Kamis, 6 Agustus 2026 di Kantor Bapperida Kota Samarinda.
Menurut Saefuddin, perkembangan zaman menuntut pemerintah dan masyarakat meninggalkan pola kerja konvensional. Digitalisasi yang semakin merambah berbagai sektor juga membuat tuntutan terhadap kualitas pelayanan publik semakin tinggi.
“Lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan bentuk nyata kepedulian kita bersama dalam menciptakan inovasi dan kolaborasi,” ujar Saefuddin.
Ia menilai inovasi tidak harus selalu berbentuk teknologi maupun program berskala besar. Menurutnya, berbagai kegiatan yang lahir dari kepedulian masyarakat dan mampu menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar juga merupakan bentuk inovasi.
Ia mencontohkan kegiatan gotong royong yang dilakukan masyarakat setiap Sabtu dan Minggu sebagai salah satu bentuk inovasi sosial. Kegiatan tersebut dinilai mampu mendorong masyarakat bersama-sama menciptakan lingkungan yang bersih, aman, nyaman, dan sehat.
“Jangan hanya mengeluh, tetapi mari ikut memikirkan solusi. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.
Saefuddin juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Ia berharap hasil riset dan gagasan yang lahir dari perguruan tinggi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan di lapangan.
“Kami di Pemerintah Kota sangat membutuhkan idealisasi riset Bapak dan Ibu semua. Jembatani teori yang ada di kampus dengan kebijakan praktis di masyarakat. Mari kita perkuat konsep pemerintah, akademisi, dan masyarakat bersama-sama,” tuturnya.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut datang dari mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).
Mahasiswa UMKT mengembangkan sejumlah produk perawatan kulit dan tubuh berbahan ekstrak alami. Salah satunya berupa sabun cuci muka yang memanfaatkan jahe Balikpapan dan ditujukan untuk membantu mengurangi jerawat.
Juniati, mahasiswa Farmasi UMKT bersama kedua temannya Rahmawati dan Javier, mengatakan penggunaan jahe Balikpapan tidak hanya ditujukan sebagai bahan dalam produk, tetapi sekaligus menjadi upaya memperkenalkan potensi bahan alam yang berasal dari Kalimantan.
“Kenapa kami menggunakan jahe Balikpapan, karena sekalian ingin mengenalkan bahwa di Balikpapan, Kalimantan, ada jahe Balikpapan,” ujar Juniati.
Produk tersebut dikembangkan dalam kemasan berukuran 100 mililiter. Dalam proses pembuatannya, jahe terlebih dahulu melalui tahap ekstraksi sebelum kemudian dicampurkan dengan bahan gel.
Juniati menjelaskan, formulasi produk masih dalam tahap penelitian untuk mendapatkan komposisi yang paling sesuai. Pengujian juga dilakukan kepada sejumlah mahasiswa sebagai pengguna awal untuk memperoleh masukan secara langsung.
“Selama tiga bulan kami melihat feedback, apa yang masih kurang dari produk ini. Karena meskipun hasil uji sudah baik, belum tentu ketika digunakan orang lain hasilnya sama,” jelasnya.
Masukan pengguna, lanjutnya, menjadi bagian penting dalam proses evaluasi, termasuk untuk mengetahui tekstur, busa, serta pengalaman penggunaan produk secara langsung.
Selain sabun cuci muka, mahasiswa Farmasi UMKT juga mengembangkan deodoran antiperspiran berbahan ekstrak daun sirih dan lemon. Daun sirih digunakan karena memiliki fungsi sebagai antibakteri.
Produk tersebut telah melalui uji coba di kalangan mahasiswa UMKT dan pengembangannya telah berlangsung sekitar tiga bulan. Saat ini, produk tersebut juga dalam proses pengurusan izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Kalau yang ini sudah lama. Ini yang sebentar lagi keluar BPOM,” ungkapnya.
Juniati mengatakan pengembangan produk tersebut pada dasarnya merupakan inisiatif mahasiswa. Keikutsertaan dalam lomba inovasi BAIMBAI kemudian menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk yang sebelumnya telah mereka kembangkan.
“Kebetulan ada lomba inovasi, jadi kami ikut. Kami kan sudah membuat inovasi, kemudian produk kami diperkenalkan melalui kegiatan ini,” katanya.
Ke depan, mahasiswa Farmasi UMKT berencana mengembangkan produk skincare lainnya, termasuk krim sebagai pelengkap sabun cuci muka. Produk berbentuk spray juga diharapkan dapat dikembangkan menjadi kemasan pump foam agar lebih praktis digunakan.
“Kami mungkin lebih ke krim juga. Karena ini baru sabun cuci muka, kami ingin memperkenalkan krim. Kemudian kalau spray ini bisa dikembangkan menjadi pump foam,” pungkas Juniati.
Kembali pada pesannya, Saefuddin berharap para peserta tidak berhenti berinovasi setelah kegiatan berakhir. Bagi peserta yang meraih penghargaan, ia meminta agar tidak cepat berpuas diri, sedangkan peserta yang belum berhasil diminta menjadikan pengalaman tersebut sebagai motivasi untuk terus menyempurnakan gagasan.
“Bagi para pemenang, saya ucapkan selamat. Jangan cepat puas diri. Sementara bagi peserta yang belum beruntung, jangan berhenti. Jadikan ini motivasi untuk terus belajar dan menyempurnakan ide-ide kreatif serta gagasan,” pungkasnya.

