Insitekaltim, Samarinda – Seorang siswa magang bernama Mandala meninggal dunia secara mendadak pada Kamis dini hari, 24 April 2026. Sebelum meninggal, korban sempat mengeluhkan sakit pada bagian kaki yang diduga akibat penggunaan sepatu yang terlalu sempit.
Ibu korban, Ratnasari menceritakan bahwa keluhan tersebut sudah dirasakan sejak awal masa magang. Dalam dua hari pertama, Mandala mengaku kakinya sakit, namun tetap dipaksakan untuk beraktivitas.
“Awalnya dia bilang kakinya sakit, tapi dibiarkan saja. Sampai setengah bulan kemudian baru dia jujur kalau sepatunya kekecilan,” ungkap Ratnasari saat diwawancarai pada Kamis, 30 April 2026.
Meski merasakan nyeri saat berjalan, korban tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Bahkan, ia sempat meminta ibunya untuk mencarikan bantalan agar kakinya lebih nyaman saat menggunakan sepatu.
Kondisi korban mulai memburuk pada Selasa, ketika rasa sakit semakin intens. Keesokan harinya, kaki korban dilaporkan mulai mengalami pembengkakan di bagian punggung kaki. Setelah mendapatkan penanganan berupa suntikan, kondisi tersebut sempat membaik.
Pada Kamis pagi, Mandala bahkan terlihat kembali beraktivitas normal. Ia sempat membantu pekerjaan rumah dan menunjukkan nafsu makan yang meningkat drastis.
“Dia makan banyak sekali, tidak seperti biasanya. Saya sampai kaget karena biasanya makannya sedikit,” kata Ratnasari.
Namun, pada malam harinya, korban meminta untuk beristirahat lebih awal. Sebelum tidur, ia sempat menyampaikan pesan kepada ibunya.
“Dia bilang, ‘Mak, kalau Mandala nanti tidak ada, mama harus kuat, jaga kakak dan adik,’” tuturnya.
Ratnasari mengaku tidak menaruh kecurigaan karena mengira anaknya hanya kelelahan. Namun saat ia terbangun sekitar pukul 01.00 dini hari, Mandala sudah dalam kondisi tidak bernyawa.
“Saya kira dia tidur seperti biasa. Tapi pas saya pegang, ternyata sudah tidak ada,” ujarnya.
Di tengah duka, Ratnasari juga mengungkapkan kendala yang dihadapi saat hendak mengurus jenazah. Ia mengaku sempat meminta bantuan kepada Ketua RT setempat untuk peminjaman ambulans, namun tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan administrasi dan biaya.
“Katanya harus ikut rukun kematian, semua serba uang. Disarankan cari relawan saja,” jelasnya.
Beruntung, pihak sekolah tempat korban menempuh pendidikan turut membantu proses penanganan jenazah. Seorang guru bernama Rahmat disebut memberikan bantuan mulai dari ambulans hingga proses pemakaman.
“Alhamdulillah, dari pihak sekolah banyak membantu, mulai dari ambulans sampai pemakaman,” tambah Ratnasari.
Peristiwa ini menyisakan duka mendalam sekaligus menjadi perhatian terkait kondisi kesehatan siswa selama menjalani kegiatan magang, serta akses layanan darurat bagi masyarakat kurang mampu.

