Insitekaltim, Samarinda – Momentum Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai persatuan, toleransi dan gotong royong dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mahasiswa Magister Teknik Sipil Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Samarinda, Nazla menilai Pancasila memiliki peran penting sebagai pedoman hidup, khususnya bagi mahasiswa dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
“Menurut saya, Pancasila adalah pedoman hidup yang menjadi dasar dalam bersikap dan bertindak sebagai mahasiswa. Nilai-nilai Pancasila mengajarkan saya untuk menghargai perbedaan, menjunjung keadilan serta bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya kepada Insitekaltim saat diwawancara melalui WhatsApp, Senin, 1 Juni 2026.
Menurut Nazla, sebagian besar anak muda saat ini telah mengamalkan nilai-nilai Pancasila, baik melalui sikap toleransi, gotong royong, maupun kepedulian sosial terhadap sesama. Namun, ia juga menyadari masih ada tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam interaksi di media sosial.
“Masih ada tantangan seperti penyebaran ujaran kebencian dan kurangnya rasa saling menghargai di media sosial yang perlu diperbaiki,” sebutnya.
Ia pun berharap generasi muda tidak hanya menghafal Pancasila, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat menjadi agen perubahan yang menjaga persatuan bangsa.
Senada dengan itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman (Unmul) angkatan 2020, Nayyah, memandang Pancasila sebagai pedoman yang membantu generasi muda dalam menyikapi berbagai persoalan, termasuk ketika menghadapi perbedaan pendapat.
Ia mengaku, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dapat menjadi pegangan untuk tetap menghormati pandangan orang lain meskipun memiliki pemikiran yang berbeda.
“Pancasila bukan sekadar dihafalkan atau diikuti saat upacara. Bagi saya, Pancasila menjadi pedoman untuk bercermin dan melihat sesuatu. Saat menghadapi perbedaan pendapat, saya teringat bahwa sila keempat mengajarkan kita untuk mendengarkan pandangan orang lain dan menyelesaikan perbedaan secara bijaksana,” bebernya.
Ia mengatakan nilai-nilai Pancasila sebenarnya telah hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia. Namun, tantangan terbesar muncul ketika interaksi berpindah ke ruang digital yang sering kali diwarnai konflik dan provokasi.
“Di dunia maya tantangannya lebih besar. Kita masih sering melihat unsur SARA dijadikan bahan lelucon, padahal itu sangat sensitif. Belum lagi banyak hoaks dan provokasi yang beredar. Kadang niatnya baik, tetapi justru terjebak dalam informasi yang tidak benar,” ungkapnya.
Pada Hari Lahir Pancasila tahun ini, dirinya berharap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dapat terus hidup di tengah masyarakat dan menjadi titik temu bagi keberagaman yang ada di Indonesia.
“Pancasila harus hadir sebagai pedoman dalam bersikap, sehingga kita mampu menghargai perbedaan, berpikir kritis dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Harapan saya, siapapun baik generasi muda, generasi tua, masyarakat biasa maupun para pejabat bisa menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila,” pungkasnya.

