Insitekaltim, Samarinda – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Sri Wahyuni menegaskan pelantikan Pengurus Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) Wilayah Kaltim periode 2025–2029 harus menjadi momentum bagi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) untuk keluar dari zona nyaman dan bertransformasi menjadi institusi layanan kesehatan yang berdaya saing, bahkan hingga level global.
Mewakili Gubernur Kaltim, Sekda memberikan arahan strategis dalam acara Pelantikan Pengurus ARSADA Wilayah Kaltim periode 2025-2029 yang dirangkai dengan Seminar Manajemen Perumahsakitan pada Rabu, 4 Februari 2026.
Menanggapi isu turbulensi yang sebelumnya disampaikan oleh Ketua ARSADA Kaltim, Sri Wahyuni memberikan analogi kepemimpinan yang kuat dalam menghadapi ketidakpastian regulasi dan dinamika zaman.
“Di tengah turbulensi pilihannya hanya dua, kita membiarkan diri terombang-ambing atau kita ambil alih kemudi untuk mengendalikan armada kita. Saya berharap ARSADA mampu membawa rumah sakit daerah keluar dari turbulensi ini dalam kondisi yang baik, bahkan mencapai level excellent,” tegas Sri Wahyuni pada sambutannya.
Salah satu poin krusial yang diungkapkan Sekda adalah, langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim yang tengah melakukan cross-cutting atau pemetaan lintas sektor untuk menyusun potret layanan kesehatan hingga tahun 2030.
Pemprov Kaltim ingin memastikan setiap rumah sakit memiliki identitas dan layanan unggulan yang spesifik dan terukur. Perencanaan strategis (Renstra) Dinas Kesehatan (Dinkes) kini harus terintegrasi penuh dengan rumah sakit di bawah koordinasinya.
Hal ini mencakup proyeksi kebutuhan alat kesehatan, pengembangan SDM, hingga fasilitas fisik yang mendukung layanan unggulan seperti jantung, bedah saraf, hingga transplantasi.
“Kita harus tahu roadmap-nya. Tahun 2027 mau unggulan apa, tahun 2029 targetnya apa. Dengan data yang kuat, TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) dan perangkat daerah terkait bisa mengetahui dukungan apa yang harus diberikan. Kita ingin rumah sakit kita bukan hanya rujukan Kaltim, tapi rujukan wilayah Timur Indonesia,” jelasnya.
Sri Wahyuni juga menyoroti fenomena masyarakat yang masih memilih berobat ke luar negeri, seperti ke Penang, Malaysia. Menurutnya, perbedaan mendasar bukan pada kemampuan medis karena dokter dan alat di Indonesia sudah sangat mumpuni melainkan pada sistem layanan dan ambience (suasana) yang dirasakan pasien.
Ia merindukan suasana rumah sakit daerah di mana pasien merasa nyaman, senang, dan merasakan bahwa mereka dilayani dengan hati.
Selain itu, Ia juga mendorong manajemen RSUD untuk menciptakan transparansi dan efisiensi melalui digitalisasi layanan agar tidak ada lagi pasien yang merasa dibolak-balik dalam sistem rujukan.
“Mengapa orang rela keluar biaya ke luar negeri? Karena mereka sudah membangun sistem yang baik. Kita punya dokter hebat, alat yang mungkin sama, tapi sistem layanan kita yang belum sama. Inilah peluang yang harus diambil oleh pengurus ARSADA yang baru,” tambahnya.
Dengan keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kaltim Sri Wahyuni mengingatkan, standar layanan kesehatan di kota-kota penyangga seperti Samarinda dan Balikpapan tidak boleh lagi sekadar cukup.
Samarinda sebagai ibu kota provinsi harus menjadi rujukan terbaik, sementara Balikpapan sebagai gerbang masuk harus memiliki layanan unggulan level regional Kalimantan.
Ia juga mengingatkan bahwa program kesehatan gratis yang menjadi perhatian Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim akan meningkatkan frekuensi kunjungan pasien.
Oleh karena itu, efisiensi manajemen dan kolaborasi lintas sektor antara RSUD, Puskesmas, Klinik, hingga BPJS menjadi sangat mendesak.
Menutup sambutannya, Sekda berharap ARSADA menghasilkan program kerja yang tidak hanya realistis, tetapi juga progresif dan menunjukkan aksi nyata dalam memperbaiki manajemen dan kepuasan masyarakat.
“Mari kita jadikan layanan kesehatan sebagai wajah kemanusiaan pemerintah. Kita ingin suara-suara di media sosial nanti bukan lagi keluhan, tapi kabar baik bahwa masyarakat bangga mendapatkan pelayanan luar biasa di rumah sakit daerahnya sendiri,” pungkasnya.

