Insitekaltim, Samarinda – Keterbatasan ruang kelas membuat sekitar 370 siswa SD Negeri 005 Sungai Kunjang atau yang juga dikenal SDN 005 Loa Buah masih mengikuti pembelajaran dalam dua sif. Sekolah saat ini hanya memiliki enam ruang kelas dan membutuhkan tambahan enam ruang kelas agar seluruh siswa dapat belajar dalam satu sif.

Kepala SDN 005 Norman mengatakan, keterbatasan ruang menjadi salah satu kebutuhan utama yang diusulkan sekolah saat menerima kunjungan Komisi IV DPRD Kota Samarinda.
“Karena ruang kelas kami tidak mencukupi. Pengennya, anak-anak kan turunnya hanya satu sif pagi saja. Sementara ini dua sif, jadi kami kekurangan kelas,” ujarnya usai menerima kunjungan, Rabu, 12 Agustus 2026.
Menurut Norman, enam ruang kelas yang tersedia belum mampu menampung seluruh siswa. Dengan jumlah siswa sekitar 370 orang, rata-rata satu kelas menampung sekitar 20 hingga 28 siswa.
Kondisi tersebut membuat beberapa tingkat harus mengikuti pembelajaran pada waktu berbeda. Siswa kelas II mulai masuk sekitar pukul 10.30 Wita, sedangkan kelas III dan IV masuk sekitar pukul 13.00 Wita dan mengikuti pembelajaran hingga sore.
Selain ruang kelas, sekolah juga belum memiliki ruang UKS khusus. Saat ini, ruang UKS masih memanfaatkan bekas rumah guru.
“Termasuk ruang UKS tidak ada. Ruang UKS kami tidak ada. Hanya itu bekas ruang rumah guru yang digunakan,” ungkapnya.
Norman juga menyampaikan usulan perbaikan halaman serta pembangunan pagar di bagian belakang sekolah. Menurutnya, kondisi halaman yang berdebu ketika tertiup angin menjadi salah satu persoalan yang perlu dibenahi. Pagar belakang juga diperlukan karena area tersebut masih digunakan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Mohammad Novan Syahronny Pasie menyampaikan secara umum kondisi sarana dan prasarana SDN 005 cukup baik. Ia menyebut pembangunan ruang laboratorium dan perpustakaan di sekolah tersebut telah selesai pada 2024. Namun, dalam kunjungan tersebut, Novan mencatat persoalan tenaga pengajar Bahasa Inggris.
“Secara keseluruhan cukup baik, tinggal tadi kendalanya permasalahan guru Bahasa Inggris yang memang masih belum ada,” sebutnya.
Persoalan kebutuhan tenaga pengajar tersebut akan didorong untuk dibahas bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda, terutama terkait kebutuhan dan formasi tenaga pengajar.
“Ini yang kita juga dorong dalam formasi ketenaga-pengajarannya seperti apa. Makanya kita semua akomodir dulu permasalahannya apa,” tegasnya.
Terkait hal itu, Norman menjelaskan guru Bahasa Inggris di SDN 005 sebenarnya ada. Persoalannya, kata dia, jenjang SD tidak memiliki formasi khusus untuk guru Bahasa Inggris seperti di SMP.
“Bahasa Inggris itu ada. Cuma kan di SD ini tidak ada formasinya. Tidak seperti SMP. SMP kan ada guru kelas, guru Bahasa Inggrisnya khusus,” jelas Norman.
Selain persoalan di sekolah utama, SDN 005 juga memiliki kelas untuk siswa dari wilayah Lokombar. Kelas tersebut dibuka untuk mengakomodasi anak-anak yang tinggal jauh dari sekolah utama.
Novan menuturkan keberadaan kelas tersebut penting karena akses menuju sekolah utama cukup sulit bagi siswa yang tinggal di wilayah tersebut.
“Karena mereka ke sini jauh dan lewat hutan itu lagi,” tuturnya.

