Insitekaltim, Samarinda – Kekeringan mulai memukul lahan pertanian di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. Tanaman padi yang baru berusia sekitar satu bulan mulai mengering setelah hujan tak turun selama beberapa pekan.
Salah seorang petani Betapus, Arlan (50), mengatakan kondisi tersebut membuat pertumbuhan tanaman padi terganggu. Tanaman yang seharusnya mulai memasuki fase bunting kini terlihat tidak subur akibat minimnya pasokan air.
“Ya tanaman padi kayak kering gini. Ini sekitar sebulanan sudah,” kata Arlan saat ditemui di lahan persawahannya, Selasa, 8 September 2026.
Arlan menuturkan, padi tersebut ditanam sebelum memasuki periode kemarau. Namun, beberapa minggu setelah penanaman, hujan mulai jarang turun hingga membuat lahan kehilangan sumber pengairan.
“Abis tanam, berapa minggu kering, sudah tidak ada hujan,” ujarnya.
Ia mengatakan kondisi kemarau panjang bukan kali pertama terjadi di wilayah tersebut. Namun, kekeringan kali ini kembali membuat petani harus menghadapi risiko penurunan hasil panen.
Menurut Arlan, dalam kondisi normal, lahan sekitar seperempat hektare yang digarapnya dapat menghasilkan hingga satu ton gabah. Namun, dengan kondisi tanaman saat ini, ia memperkirakan hasil panennya bisa turun drastis.
“Wah ini paling ya sekitar tidak sampai setengah ton, ya mungkin sekwintal dapat sih,” katanya.
Tanaman padi yang masih bertahan pun diperkirakan hanya menghasilkan gabah dalam jumlah terbatas. Sementara tanaman yang sudah mengering berpotensi tidak menghasilkan panen.
Arlan menjelaskan, padi yang ditanam merupakan varietas unggul dengan masa panen sekitar tiga bulan lebih sedikit. Saat ini tanaman seharusnya mulai memasuki fase bunting atau munting sebelum akhirnya memasuki masa pengisian bulir.
“Kalau air banyak, ini sudah mulai bunting,” ujarnya.
Minimnya air juga membuat perawatan tanaman menjadi tidak efektif. Arlan mengatakan pemupukan sulit dilakukan karena kondisi tanah terlalu kering. Pupuk yang diberikan dikhawatirkan tidak terserap optimal.
“Tidak bisa ini, percuma kalau mupuk, menguap lagi,” katanya.
Untuk mempertahankan tanaman, ia bahkan sempat membeli air dan melakukan penyemprotan pada malam hari. Namun, upaya tersebut dinilai belum mampu mengatasi persoalan kekeringan secara keseluruhan.
Selama kemarau, lahan yang digarap Arlan praktis tidak mendapatkan pengairan. Sumber air yang biasanya dimanfaatkan petani berasal dari bendungan dan saluran di sekitar persawahan. Namun, kondisi sumber air tersebut kini ikut mengering.
“Kumpulan dari sana, bendungan. Ini di bendungan sudah kering juga, sudah ditutup,” tuturnya.
Arlan mengatakan lahan miliknya juga berada di posisi yang relatif lebih tinggi sehingga selama kondisi normal pun membutuhkan bantuan pompa untuk mengalirkan air.
“Kalau garap ini, aku biasanya mompa terus karena ini agak tinggi. Kalau sebelah sana masih bisa ngairi, kalau punyaku mompa terus,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan air di saluran menjadi faktor penting bagi keberlangsungan pertanian di kawasan tersebut.
“Yang penting parit ini ada air, itu bisa panen,” katanya.
Dalam setahun, Arlan biasanya dapat menanam padi sebanyak dua kali. Namun, pola tanam tersebut sangat bergantung pada ketersediaan air, terutama saat musim hujan.
Kini ia berharap rencana Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distapang) Samarinda untuk membantu pengairan menggunakan pompa dapat segera terealisasi.
“Mudah-mudahan bisa terlaksana, secepatnya bisa mengairi, jadi sedikit-sedikit masih bisa panen. Jadi ada harapan lah untuk makan,” ucapnya.
Hasil panen dari lahan tersebut sebagian digunakan untuk kebutuhan sendiri dan sebagian lainnya dijual. Karena itu, penurunan hasil panen akibat kekeringan tidak hanya berdampak pada produksi, tetapi juga pada ketersediaan pangan keluarga petani.
Jika kondisi air tidak segera membaik, Arlan memperkirakan masa panen yang semestinya berlangsung sekitar dua bulan lagi tidak akan menghasilkan produksi seperti biasanya.
“Kalau enggak kena kemarau gini, sekitar tiga bulanan lebih, dua bulan lagi seharusnya sudah panen sedikit-sedikit. Karena kena panas gini, gimana ya, enggak kelihatan subur juga,” ujarnya.
Ia berharap pasokan air segera tersedia sebelum tanaman semakin rusak. Bagi Arlan, air menjadi penentu apakah tanaman yang kini masih bertahan dapat diselamatkan atau justru berakhir gagal panen.

