Insitekaltim, Samarinda – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud meminta seluruh pemangku kepentingan memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak dini di tengah potensi fenomena El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga September atau Oktober 2026.
“Lebih baik kita sibuk hari ini mengantisipasi, daripada besok sibuk memadamkan karhutla,” ujarnya saat menghadiri Rapat Koordinasi Daerah Kesiapan Pencegahan dan Penanganan Karhutla serta Antisipasi Fenomena El Nino di Gedung Mahakam Polda Kaltim, Selasa, 4 Agustus 2026.
Ia mengapresiasi Polda Kaltim yang menginisiasi rapat koordinasi tersebut sebagai langkah memperkuat sinergi lintas sektor menghadapi ancaman karhutla dan El Nino. Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat ditangani oleh satu atau dua institusi saja.
Karena itu Harum sapaan akrabnya mengajak pemerintah daerah, TNI, Polri, dunia usaha, relawan, hingga masyarakat untuk mengesampingkan ego sektoral dan bergerak dalam satu barisan.
“Karhutla bukan hanya soal api. Dampaknya menyentuh ekosistem, kesehatan masyarakat, hingga citra dan nama baik daerah,” tegasnya.
Ia menjelaskan, fenomena El Nino berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan yang berdampak pada keterbatasan air bersih, kekeringan, hingga terganggunya sektor pertanian dan perkebunan.
Oleh sebab itu, upaya pencegahan dinilai jauh lebih penting dibanding hanya berfokus pada pemadaman ketika kebakaran telah terjadi.
“Mudah-mudahan yang panas hanya cuacanya, bukan lahannya yang terbakar. Sebab yang harus menyala itu semangat kita untuk melayani masyarakat Kaltim,” tuturnya.
Ia menambahkan, keberhasilan mencegah karhutla juga menjadi bagian penting dalam menjaga reputasi Kalimantan Timur. Sebab, dampak asap tidak berhenti pada batas wilayah administratif. Posisi Kaltim yang berbatasan dengan Malaysia dan berdekatan dengan Brunei Darussalam membuat penanganan karhutla turut menjadi perhatian di tingkat regional.
Sementara itu, Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro mengatakan pihaknya memperkuat sistem deteksi dini melalui aplikasi Lembu Swana yang memungkinkan pemantauan titik panas (hotspot) secara lebih cepat di berbagai wilayah Kalimantan Timur.
“Setelah mengetahui titik apinya, kami bisa segera tindak lanjuti. Personel Bhabinkamtibmas akan segera ke lokasi untuk melaporkan kondisi titik api atau bukan titik api, apakah api kecil, sedang, besar atau sudah terkendali,” jelas Endar.
Apabila titik panas terdeteksi berada di kawasan pertambangan maupun perkebunan, kepolisian akan segera berkoordinasi dengan perusahaan terkait agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan potensi kebakaran tidak berkembang.
Berdasarkan pemaparan aplikasi tersebut, saat ini terpantau terdapat sembilan hotspot hijau, 236 hotspot kuning, dan 25 hotspot merah di Kalimantan Timur. Data tersebut menjadi dasar untuk mempercepat respons lapangan sekaligus memperkuat langkah pencegahan.
Endar menegaskan penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi seluruh pihak karena keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
“Kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan harus kita pikul bersama dan bahu-membahu,” pungkasnya.

