Insitekaltim, Samarinda – Di tengah kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat kebakaran, puluhan keluarga di Jalan Wolter Monginsidi, Samarinda, mendapat bantuan kebutuhan pangan dari Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsospemmas) Kota Samarinda. Bantuan tersebut disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak musibah. Kamis, 29 Oktober 2026 kemaren.
Diketahui, kebakaran yang terjadi di kawasan tersebut menghanguskan 16 bangunan, termasuk tujuh bangunan indekos. Peristiwa itu berdampak terhadap 46 kepala keluarga (KK) dengan total 109 jiwa.
Kepada awak media, Kepala Dinsospemmas Kota Samarinda, Mochammad Arif Surochman, mengatakan penyaluran bantuan merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap warga yang sedang menghadapi situasi sulit setelah kehilangan tempat tinggal maupun barang-barang milik mereka.
“Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan pangan menjadi salah satu hal mendasar yang harus segera diperhatikan. Karena itu, kami berupaya hadir untuk membantu meringankan beban warga yang terdampak kebakaran,” Ungkapnya saat dikonfirmasi awak media. Jumat, 30 Oktober 2026.
Bantuan yang didistribusikan berupa paket kebutuhan pangan dengan jumlah yang disesuaikan berdasarkan data penerima. Setiap paket mencakup beras, mi instan, kecap manis, minyak goreng, susu kental manis, teh, gula, serta satu kantong tas khusus.
Secara keseluruhan, bantuan yang disalurkan terdiri dari 46 sak beras kemasan 5 kilogram, 46 dus mi, 46 botol kecap manis, 46 liter minyak goreng, 46 liter susu kental manis, 46 kotak teh, 46 kilogram gula, serta 46 kantong tas khusus.
Arif menegaskan, bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan awal para korban, terutama keluarga yang untuk sementara waktu harus menghadapi keterbatasan akibat kehilangan tempat tinggal dan perlengkapan rumah tangga.
“Bantuan ini memang tidak dapat menggantikan apa yang telah hilang akibat kebakaran. Namun, kami berharap paket kebutuhan pokok ini dapat sedikit membantu warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari selama masa pemulihan,” Ucapnya.
Proses penanganan kebakaran di lokasi juga dihadapkan pada kondisi lingkungan yang cukup menantang. Kawasan permukiman berada di area dengan kontur tanah terjal atau berbukit, memiliki akses gang sempit, serta bangunan yang berdiri berdekatan dengan dominasi material kayu. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanganan kebakaran, mengingat jarak ant bangunan yang rapat berpotensi mempercepat perambatan api.
Arif menyampaikan, perhatian terhadap warga terdampak perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya pada saat bantuan awal disalurkan, tetapi juga dengan memperhatikan kebutuhan mereka setelah kejadian.
“Yang terpenting saat ini adalah memastikan warga terdampak mendapatkan perhatian dan bantuan sesuai kebutuhan. Kami berharap masyarakat yang mengalami musibah dapat segera bangkit dan menjalani kembali aktivitasnya,” Pungkasnya. (ADV)

