Insitekaltim, Samarinda – Peluang hujan di Kalimantan Timur (Kaltim) pada awal Oktober 2026 terbilang tinggi mencapai lebih dari 90 persen. Namun, angka itu belum menggambarkan besarnya pasokan air yang akan diterima wilayah tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda memprakirakan sebagian besar wilayah Kaltim hanya mendapat curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter (mm) pada periode 1–10 Oktober 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan peluang terjadinya hujan cukup tinggi, tetapi intensitas dan akumulasi curah hujannya belum cukup untuk disebut sebagai periode basah secara merata. Terlebih, sifat hujan di sebagian besar wilayah Kaltim juga diprediksi berada pada kategori bawah normal, sekitar 0–50 persen.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda Riza Arian Noor mengatakan, prakiraan tersebut berlaku untuk sebagian besar wilayah Kaltim.
“Prediksi deterministik curah hujan menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Provinsi Kaltim diprediksi akan mengalami curah hujan kategori rendah (0–50 mm),” ujar Riza di Samarinda, Kamis, 1 Oktober 2026.
Perbedaan antara peluang hujan dan jumlah curah hujan menjadi bagian penting dari prakiraan tersebut. Hujan berpeluang terjadi, tetapi tidak seluruh wilayah akan menerima volume air yang sama.
Wilayah barat laut Kaltim justru diprediksi memperoleh curah hujan kategori menengah, yakni 50–150 mm, dengan peluang hujan 60–70 persen. Sementara Berau bagian barat, Kutai Timur bagian barat laut, dan Mahakam Ulu bagian barat diprakirakan mendapat curah hujan sekitar 50–75 mm.
Sebaliknya, sebagian besar wilayah lain masih berada dalam prakiraan curah hujan rendah. Bahkan, hanya sebagian kecil wilayah Berau bagian barat dan Kutai Timur bagian barat laut yang diprediksi memiliki sifat hujan kategori normal, yakni 84–115 persen.
Situasi itu membuat datangnya hujan pada awal Oktober belum bisa dibaca sebagai perubahan kondisi secara menyeluruh. Terlebih, BMKG masih mencatat adanya wilayah yang mengalami hari tanpa hujan dalam kategori kekeringan ekstrem.
Kabupaten Paser, Kutai Kartanegara, dan Kota Samarinda termasuk wilayah yang tercatat mengalami kondisi tersebut. Di Batu Enggau, Paser, durasi hari tanpa hujan bahkan mencapai 69 hari berturut-turut.
“Durasi terpanjang tercatat di Batu Enggau, Kabupaten Paser, yang mengalami hari tanpa hujan selama 69 hari berturut-turut,” kata Riza.

