Insitekaltim, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Samarinda tidak hanya terjadi di banyak titik, tetapi juga berulang di kawasan yang sama. Hingga 14 September 2026, BPBD mencatat 185 kejadian dengan total lahan terbakar mencapai 382,93 hektare.
Kawasan Palaran menjadi wilayah dengan luasan terbakar paling besar, yakni 149 hektare. Berikutnya Sambutan dengan 125 hektare dan Samarinda dengan 61 hektare.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Suwarso mengatakan, pola kebakaran yang ditemukan sejauh ini belum mengarah pada dugaan pembukaan lahan untuk kepentingan perkebunan dalam skala besar.
“Kalau dugaan saya di Samarinda masih perorangan ya, karena saya lihat memang belum ada indikasi kebakaran lahan lokasinya untuk ke perkebunan,” kata Suwarso di Kantor DPRD Samarinda, Selasa, 15 September 2026.
Dugaan sementara, sebagian kebakaran berkaitan dengan aktivitas warga yang memanfaatkan lahan secara pribadi. Suwarso meengatakan kemungkinan lahan dibakar untuk keperluan kebun atau persiapan menanam padi.
“Sifatnya kayak masih perorangan, dan mungkin hanya untuk kebun, mungkin untuk tanam padi mungkin seperti itu ya,” ujarnya.
Namun, BPBD belum dapat memastikan penyebab maupun pihak yang melakukan pembakaran. Pendalaman mengenai asal-usul kebakaran dan dugaan pelanggaran menjadi ranah kepolisian.
“Tapi kan nanti penggalian-penggalian data lengkapnya ada di teman-teman Polri, supaya informasi saya juga enggak salah,” jelasnya.
Persoalan lain muncul dari kebakaran yang terjadi berulang. Suwarso menyebutkan kawasan Irigasi Palaran bahkan mengalami kebakaran hampir tiga hari berturut-turut.
Kondisi serupa ditemukan di kawasan Betapus atau Belimau. Di Sambutan, khususnya Belimun, serta Makroman, kebakaran juga tercatat terjadi berulang kali.
“Di Betapus atau Belimau juga beberapa kali, di Sambutan itu di Belimun 8, Makroman itu kan berulang kali itu, nah itu datanya,” tandas Suwarso.

