Insitekaltim, Samarinda – Melemahnya daya beli masyarakat di dalam negeri, seharusnya tidak membuat pelaku usaha pesimistis.
Kondisi ini, harus semakin memicu optimisme pelaku pasar, utamanya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)di di Kalimantan Timur (Kaltim), untuk semakin otimis melangkah kepasar luar negeri.
Berpulang pada kondisi pasar domestik, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DPPKUKM) Kaltim Heni Purwaningsih mengatakan, DPPKUKM Kaltim terus mendorong pelaku UMKM untuk mulai membidik pasar ekspor.
Sebab lanjutnya, pasar global masih terbuka lebar dan dapat menjadi peluang bagi UMKM. Untuk meningkatkan penjualan di tengah perlambatan konsumsi domestik.
Heni Purwaningsih mengatakan, kondisi tersebut seharusnya, tidak membuat pelaku usaha pesimistis.
Menurutnya, nilai tukar dolar yang menguat. Justru dapat memberikan keuntungan lebih besar bagi pelaku usaha yang mampu menembus pasar internasional.
“Di tengah kenaikan dolar, tentu margin yang diperoleh bisa lebih baik jika pasar yang dituju adalah pasar luar negeri,” ujarnya, di Samarinda, Rabu, 8 Juli 2026.
Heni menjelaskan, pasar ekspor masih memiliki ruang yang luas bagi berbagai produk asal Kalimantan Timur.
Karena itu, UMKM didorong untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap pasar domestik yang saat ini tengah mengalami perlambatan.
“Di saat daya beli di dalam negeri menurun, pasar ekspor masih sangat terbuka. Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi UMKM kita,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku, masih ada tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha untuk menembus pasar global. Salah satunya, pemenuhan standar kualitas dan sertifikasi yang menjadi syarat utama bagi negara tujuan ekspor, maupun calon pembeli dari luar negeri.
Untuk membantu pelaku usaha, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah menyiapkan berbagai bentuk fasilitas, mulai dari bantuan biaya pengujian produk hingga pengiriman sampel kepada calon pembeli di luar negeri.
Menurut Heni, dalam proses ekspor tidak sedikit calon buyer yang meminta sampel produk terlebih dahulu sebelum memutuskan menjalin kerja sama. Melalui program tersebut, pelaku UMKM tidak perlu lagi menanggung seluruh biaya secara mandiri.
“Jadi ketika ada permintaan dari calon buyer, pelaku usaha tidak harus menanggung seluruh biaya sendiri,” ungkapnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga menyediakan fasilitas Balai Pengujian dan Standardisasi Produk yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk memastikan produknya memenuhi standar pasar internasional.
Heni menilai Kaltim memiliki beragam komoditas, yang berpotensi bersaing di pasar global. Salah satunya gula nipah, yang mulai dikenal sebagai produk unggulan daerah.
Selain itu, berbagai produk olahan pangan, kerajinan, hingga komoditas berbasis sumber daya alam juga dinilai memiliki prospek ekspor yang menjanjikan.
“Kaltim memiliki produk dan komoditas yang sangat beragam. Diversifikasi produk kita cukup kuat untuk masuk ke pasar ekspor,” ujarnya.
Ia menambahkan, perluasan akses pasar juga didukung oleh keberadaan Export Center Kementerian Perdagangan di Balikpapan yang memberikan informasi peluang pasar internasional, pendampingan, hingga mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli dari berbagai negara.
“Tinggal bagaimana UMKM mampu meningkatkan kualitas produknya dan memanfaatkan peluang tersebut secara maksimal,” pungkasnya.

