Insitekaltim, Samarinda – Aksi unjuk rasa Gerakan Rakyat Menggugat (Geram) Kaltim di Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rabu, 4 November 2026, semakin memanas.
Ratusan mahasiswa bersama sejumlah elemen masyarakat berhasil masuk ke halaman kantor gubernur dan melemparkan sampah sayuran busuk ke area gedung pemerintahan tersebut.
Aksi itu menjadi bentuk protes terhadap sejumlah persoalan yang dinilai belum ditangani Pemprov Kaltim. Salah satunya pemadaman listrik bergilir yang berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk pelaku usaha yang menyimpan bahan makanan dan sayuran.
Humas aksi Arianto, mengatakan sayuran busuk yang dilemparkan massa merupakan sampah hasil buangan masyarakat yang terdampak pemadaman listrik. Menurutnya, tindakan tersebut menjadi simbol kekecewaan terhadap kondisi pemerintahan di Kaltim.
“Kenapa lempar sampah-sampah busuk? Karena kita lihat bobroknya sebuah pemerintahan di Kaltim,” kata Arianto saat aksi berlangsung.
Ia menyebut kekecewaan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan persoalan listrik. Sejumlah tuntutan dari demonstrasi sebelumnya pada 21 Oktober 2026 juga dinilai belum menunjukkan realisasi, termasuk permintaan kompensasi bagi masyarakat yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan kabut asap karhutla.
“Untuk kompensasi daripada korban-korban ISPA belum direalisasikan. Untuk enam tuntutan yang sebelumnya juga belum direalisasikan,” ujarnya.
Menurut Arianto, ketidakhadiran Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji untuk menemui massa turut memperbesar kekecewaan demonstran. Mahasiswa menginginkan penjelasan langsung dari pimpinan daerah mengenai tuntutan yang telah berulang kali disuarakan.
“Karena gubernur dan wakil gubernur tidak hadir menemui kita. Ini bentuk daripada amarah daripada mahasiswa,” katanya.
Massa pun menyatakan tidak akan meninggalkan kawasan Kantor Gubernur Kaltim sebelum Rudy Mas’ud datang menemui mereka. Desakan tersebut terus disuarakan meski hari mulai malam.
“Kalau tidak hari ini gubernur tidak menemui kami, kami akan menunggui gubernur sampai gubernur datang,” tegas Arianto.
Hingga sekitar pukul 19.00 WITA, massa masih bertahan di sekitar Kantor Gubernur Kaltim. Mereka terus meminta agar gubernur hadir secara langsung untuk menerima aspirasi dan memberikan jawaban atas tuntutan yang disampaikan.
Di tengah situasi tersebut, aparat keamanan berulang kali berupaya memukul mundur massa dari area kantor gubernur. Namun, demonstran tetap bertahan dan melanjutkan aksi.
Aksi pada 4 November ini merupakan demonstrasi lanjutan setelah mahasiswa menilai tujuh tuntutan yang disampaikan pada 21 Oktober lalu belum mendapat kepastian penyelesaian.

