Insitekaltim, Samarinda – Rumah Adat Kota Samarinda terus menjadi salah satu destinasi edukasi dan pengenalan budaya yang diminati masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan generasi muda.
Namun, upaya memperkenalkan warisan budaya daerah tersebut sempat menghadapi tantangan kondisi lingkungan. Penurunan kualitas udara akibat pencemaran dan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) membuat pelaksanaan sejumlah kegiatan kunjungan edukasi, terutama di luar ruangan, perlu disesuaikan demi menjaga kesehatan dan keselamatan pengunjung.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, jumlah kunjungan Rumah Adat selama Januari hingga Oktober 2026 mencapai 13.632 orang, dengan rata-rata 1.363 pengunjung setiap bulan.
September menjadi periode dengan kunjungan tertinggi, yakni 2.619 orang, sedangkan jumlah terendah terjadi pada Maret sebanyak 248 orang. Sementara itu, pada Oktober tercatat 1.787 pengunjung atau mengalami penurunan sekitar 31,8 persen dibandingkan September.
Plt Kepala Disdikbud Kota Samarinda, Eko Suprayetno, mengungkapkan penyesuaian aktivitas kunjungan dilakukan sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap kondisi kesehatan masyarakat.
Menurutnya, kondisi kualitas udara yang kurang kondusif akibat pencemaran dan kabut asap Karhutla menjadi salah satu pertimbangan dalam mengatur kegiatan edukasi di Rumah Adat.
“Kami tentu ingin kegiatan edukasi dan pengenalan budaya tetap berjalan, tetapi kesehatan dan keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas. Karena itu, pelaksanaan kunjungan, khususnya kegiatan di luar ruangan, perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan serta arahan yang berlaku,” Ungkap Eko kepada awak media. Rabu, 4 November 2026.
Meski terjadi penurunan pada Oktober, Disdikbud Samarinda tetap optimistis Rumah Adat dapat mempertahankan perannya sebagai ruang belajar sekaligus sarana pelestarian budaya daerah.
Berdasarkan rata-rata kunjungan selama sepuluh bulan, jumlah pengunjung hingga akhir 2026 diproyeksikan mencapai 16.300 hingga 16.500 orang.
Eko berharap kondisi lingkungan segera membaik sehingga sekolah, komunitas, instansi, dan masyarakat dapat kembali memanfaatkan Rumah Adat sebagai ruang edukasi secara lebih optimal.
“Kami mengapresiasi seluruh masyarakat, sekolah, komunitas, dan instansi yang telah berkunjung. Partisipasi ini sangat berarti dalam memperkenalkan sekaligus menjaga warisan budaya Kota Samarinda,” Ucapnya.
Ke depan, Disdikbud Samarinda akan terus mendorong keberlanjutan program edukasi dan promosi Rumah Adat, sekaligus memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan jumlah kunjungan. (ADV)

