Insitekaltim, Samarinda – Penyair Samarinda Kristal Firdaus memilih puisi sebagai cara untuk merekam kehidupan kota dari sisi yang dekat dengan keseharian masyarakat. Bagi dia, Samarinda tidak cukup hanya ditulis melalui ikon kota atau keindahan tempatnya, tetapi juga melalui cara warganya bertahan dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Kristal mengatakan, setiap penyair memiliki cara berbeda dalam merekam kota berdasarkan latar belakang dan pengalaman masing-masing. Karena itu, ia memilih melihat Samarinda dari kehidupan anak muda, termasuk kebiasaan, budaya berkumpul, hingga cara mereka mencari ruang untuk tetap hidup di tengah berbagai persoalan kota.
“Aku menulis gimana sih anak muda yang kita lakuin. Gimana sih cara kita meromantisasi kota ini. Apa sih yang kita lakuin untuk hidup di kota ini,” ujarnya usai Talkshow Samarinda Book Party x Festival Literasi Kaltim di Aula Tower Dispora Kaltim, Sabtu, 5 September 2026.
Ia menyebut kehidupan anak muda di Samarinda, termasuk budaya ngopi, menjadi bagian yang menarik untuk dituangkan ke dalam puisi. Menurutnya, hal-hal tersebut merupakan realitas yang benar-benar terjadi dan layak direkam sebagai bagian dari wajah kota.
“Aku lebih yang ke anak-anak mudanya. Budaya-budaya ngopi kita. Budaya-budaya yang benar-benar real,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut membuat Kristal tidak ingin puisinya sekadar menggambarkan Samarinda sebagai daerah yang memiliki sesuatu untuk dijual. Ia justru ingin menghadirkan kota sebagaimana yang dirasakan dan dijalani masyarakatnya.
“Aku berusaha nggak eksotisme aja. Nggak fokus ke menjual daerah ini. Karena apa sih yang bisa kita jual sebenarnya?,” tuturnya.
Selain kehidupan anak muda, persoalan kota juga menjadi bagian dari rekaman puisinya. Kristal menyebut Teluk Lerong dan kondisi Sungai Mahakam sebagai contoh bagaimana ruang yang sehari-hari dilihat masyarakat juga menyimpan persoalan yang tidak selalu terlihat dari permukaannya.
Ia menyinggung fenomena orang yang melompat dari kawasan Teluk Lerong serta kondisi sungai yang menurutnya menjadi bagian dari realitas Samarinda yang perlu diperhatikan.
“Aku selalu mikir kayak kita selalu ke sana, tapi sebenarnya di Teluk Lerong kan ada orang bunuh diri juga lah. Dimana pemerintah, terus kayak sungai kita coklat, sampai aku di puisi itu sampai aku nulis kayak gimana nanti kalau sungai ini akhirnya merah karena orang sering loncat di sana,” bebernya.
Bagi Kristal, puisi tidak harus selalu ditempatkan sebagai karya yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia melihat puisi juga dapat menjadi cara untuk menerjemahkan perasaan sekaligus merekam apa yang terjadi di sekitar.
Karena itu, ketika menulis tentang Samarinda, ia tidak semata-mata berharap pemerintah membaca atau merespons karyanya. Ia lebih ingin puisinya mempertemukan orang-orang yang memiliki keresahan dan kepedulian yang sama terhadap kota tempat mereka hidup.
“Aku malah berharap bisa merangkul teman-teman, bisa saling merasakan, saling menjembatani perasaan mereka. Cara kita bertahan hidup di kota ini. Itu yang puitis,” jelasnya.
Ia menambahkan, penyair di Samarinda sebenarnya cukup banyak. Namun, keberadaan mereka belum selalu mendapat perhatian yang sepadan. Penyair muda dari Samarinda juga memiliki kesempatan tampil di ruang sastra nasional dan internasional.
Kristal sendiri menjadi penyair asal Samarinda ketiga yang mengikuti Makassar International Writers Festival, setelah Septy dan Novan Leany. Hal tersebut pun menunjukkan bahwa potensi penyair di Kalimantan Timur sebenarnya ada, hanya saja ekosistem dan dukungan terhadap mereka masih perlu diperkuat.

