Insitekaltim, Samarinda – Dunia bakery kembali diramaikan oleh roti dengan tampilan sederhana. Salt bread atau shio pan yang berasal dari Jepang kini tidak hanya menjadi bagian dari budaya bakery Asia, tetapi mulai mendapatkan perhatian di berbagai negara.
Perkembangannya cukup menarik. Salt bread dikenal lebih dulu di Jepang, kemudian popularitasnya meningkat di Korea Selatan pada awal 2020-an. Dari sana, roti tersebut ikut menyebar melalui budaya kafe dan media sosial hingga mulai masuk ke pasar bakery Amerika Serikat.
Perjalanan tersebut membuat salt bread kini dipandang lebih dari sekadar tren makanan sesaat. Sejumlah bakery bahkan mulai menjadikannya sebagai produk utama, dengan menawarkan versi klasik maupun kreasi baru.
Lantas, apa yang membuat roti sederhana ini menarik?
Salah satu jawabannya ada pada cara salt bread dibuat. Adonan roti digulung mengelilingi potongan mentega sebelum dipanggang. Ketika berada di dalam oven, mentega meleleh dan menghasilkan bagian bawah roti yang renyah, sekaligus membentuk rongga di bagian tengah.
Hasilnya adalah perpaduan yang cukup berbeda dari roti biasa. Bagian dalam tetap lembut, sementara bagian bawah memberikan sensasi garing dengan aroma mentega yang kuat.
Karakter tersebut juga membuat salt bread mudah diterima sebagai makanan yang bisa dinikmati tanpa tambahan rumit. Versi klasiknya cukup mengandalkan adonan, mentega dan garam. Namun, bentuk dasarnya memungkinkan bakery mengembangkan berbagai varian sesuai selera pasar.
Di Korea Selatan, perkembangan salt bread bahkan melahirkan toko-toko yang secara khusus menjual roti tersebut. Popularitasnya kemudian ikut mendorong munculnya berbagai varian rasa dan isian.
Media sosial turut memainkan peran dalam perjalanan salt bread. Potongan video yang memperlihatkan roti dibelah atau disobek dapat menampilkan rongga serta mentega yang meleleh di dalamnya. Karakter visual semacam ini membuat pengalaman menyantap roti bisa diterjemahkan menjadi konten yang menarik.
Tren tersebut kini mulai terlihat di Amerika Serikat. Pada 2026, sejumlah bakery di New York dan wilayah Bay Area mulai menawarkan salt bread, bahkan beberapa di antaranya menjadikannya sebagai produk yang menjadi daya tarik utama.
Perkembangan itu membuat salt bread mulai dibandingkan dengan croissant. Keduanya sama-sama menawarkan rasa buttery dan tekstur yang menarik, tetapi proses pembuatannya berbeda. Salt bread tidak membutuhkan proses laminasi berlapis seperti croissant karena mentega ditempatkan di dalam adonan sebelum dipanggang.
Menariknya, perkembangan salt bread tidak berhenti pada resep klasik. Bakery di Amerika mulai mengolahnya dengan bahan lokal maupun rasa yang lebih beragam, seperti ube, wijen hitam, keju krim, hingga isian gurih. Ini menunjukkan bagaimana satu jenis roti dapat berubah mengikuti karakter pasar tanpa kehilangan bentuk dasarnya.
Perjalanan shio pan menjadi gambaran bagaimana tren kuliner modern bekerja. Sebuah makanan dapat berangkat dari tradisi bakery lokal, kemudian mendapatkan momentum dari budaya kafe dan media sosial sebelum akhirnya diterjemahkan kembali oleh pelaku kuliner di negara lain.
Salt bread pun kini bukan lagi sekadar roti asin dengan mentega. Perkembangannya menunjukkan bahwa makanan sederhana dapat memperoleh tempat baru ketika memiliki karakter rasa, tekstur, dan tampilan yang mudah dikenali.

