Insitekaltim, Samarinda – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menunjukkan penurunan memasuki akhir September 2026. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko gangguan pernapasan karena hujan belum turun merata dan paparan asap masih berpotensi terjadi.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, penurunan kasus ISPA mulai terlihat seiring membaiknya kondisi udara dan turunnya suhu. Menurutnya, semakin sering hujan turun, potensi kasus ISPA diharapkan ikut berkurang.
“Sekarang sudah menurun. Suhunya sudah bagus. Suhu juga sudah menurun. Mudah-mudahan semakin banyak hujan itu semakin berkurang kasus-kasus ISPA,” ujarnya di Samarinda, Rabu 23 September 2026.
Meski kasus mulai turun, faktor lingkungan masih menjadi perhatian. ISPA tidak hanya berkaitan dengan satu penyebab, tetapi dapat dipicu oleh virus maupun bakteri. Kondisi lingkungan dan kualitas udara juga dapat memengaruhi munculnya gangguan saluran pernapasan.
“Penyebabnya kan bisa virus, bisa bakteri. Penyebabnya karena lingkungan tidak bagus, kemudian kualitas udara juga mempengaruhi munculnya bakteri dan virus itu pada akhirnya jadi ISPA,” katanya.
Persoalannya, perbaikan kondisi udara belum serta-merta berarti ancaman asap berakhir. BPBD Kaltim masih memperkirakan dampak asap dapat bertahan selama hujan belum benar-benar aktif di berbagai wilayah.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, hujan yang lebih aktif diperkirakan baru mulai muncul sekitar akhir Oktober. Karena itu, masyarakat masih diminta mewaspadai paparan asap, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
“Kalau kita prediksikan nanti hujan itu baru mulai aktif atau mulai muncul di sekitar akhir Oktober. Artinya kita harus waspada bahwa dampak asap tadi masih akan terus timbul,” kata Buyung.
Kondisi tersebut juga berkaitan dengan pola hujan Kaltim pada akhir September. Berdasarkan pembaruan data BMKG 17 September 2026, sebagian besar wilayah Kaltim pada Dasarian III September atau 21–30 September diprediksi hanya mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter. Pengecualian terdapat di bagian utara Berau dan bagian barat Mahakam Ulu yang diprediksi masuk kategori menengah 50–75 milimeter.
BMKG juga memprakirakan sejumlah wilayah Kaltim berada dalam kategori sifat hujan bawah normal pada periode tersebut, termasuk Samarinda, Balikpapan, Paser, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Penajam Paser Utara.
Di sisi lain, BPBD masih memantau potensi asap yang muncul akibat karhutla. Sebelumnya, kualitas udara Kaltim sempat masuk kategori tidak sehat akibat peningkatan konsentrasi PM2.5, sebelum membaik ke kategori sedang setelah penanganan karhutla.
Buyung mengatakan pemantauan kondisi cuaca terus dilakukan bersama BMKG. Operasi modifikasi cuaca juga dilakukan dengan memanfaatkan potensi awan yang tersedia untuk membantu meningkatkan peluang hujan.
“Di perkiraan 10 hari ke depan ini masih ada potensi-potensi hujan walaupun intensitasnya masih kecil. Tetapi ini hanya berlaku untuk daerah sekitar pertengahan Kalimantan sampai dengan ke utara,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat tetap diminta menjaga kesehatan meski tren ISPA mulai menurun. Kelompok anak-anak dan lansia menjadi perhatian karena lebih rentan ketika kualitas udara memburuk.
Buyung juga menyebut kondisi udara dapat menjadi pertimbangan dalam pengaturan aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar, apabila kualitas udara kembali tidak kondusif.
“Terutama bagi usia lansia dan anak-anak. Mungkin untuk kaitannya dari pihak-pihak terkait, baik dari pendidikan maupun hal-hal lainnya bisa mengatur bagaimana pola belajar sehingga apabila melihat kondisinya tidak kondusif mungkin bisa menyesuaikan dengan kegiatan,” tandasnya.

