Insitekaltim, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda tercatat mencapai 127 kejadian sejak Januari hingga akhir Agustus 2026, dengan total luas area terbakar sekitar 211 hektare.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso mengatakan, kejadian karhutla paling banyak terjadi pada Agustus. Seluruh kejadian yang telah dilaporkan hingga saat ini telah mendapatkan penanganan.
“Ya sampai dengan hari ini itu ada 127 kejadian. Itu dihitung dari Januari, memang yang terbanyak di bulan Agustus, dengan luasan kurang lebih 211 hektare. Itu semuanya tertangani,” ujar Suwarso, Selasa, 1 September 2026.
Menurutnya, penanganan karhutla dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), relawan, BPBD hingga unsur pemerintah provinsi.
Apabila kebakaran terjadi secara bersamaan di sejumlah lokasi, petugas akan membagi kekuatan berdasarkan arahan Posko Siaga Darurat agar seluruh titik dapat segera ditangani.
Suwarso menyebut wilayah yang mengalami kebakaran dengan luasan cukup besar berada di Kelurahan Bantuas. Selain itu, Kecamatan Sambutan dan Kecamatan Palaran juga menjadi wilayah yang cukup sering menghadapi karhutla.
Ia menjelaskan penanganan karhutla di Samarinda masih menghadapi sejumlah kendala, terutama kondisi medan dan keterbatasan sumber air. Lahan gambut yang memiliki kedalaman cukup tinggi membuat petugas kesulitan menjangkau titik api yang berada di bagian dalam.
“Yang menjadi kendala pemadaman lahan itu terutama disebabkan oleh medan. Termasuk lahan gambut yang begitu dalam sehingga kita kesulitan menjangkau titik-titik api yang ada di dalam,” jelasnya.
Di tengah kondisi kekeringan, keterbatasan air juga menjadi persoalan lain yang harus ditangani pemerintah. Beberapa instalasi pengolahan air (IPA) milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terdampak intrusi air laut sehingga tidak dapat melakukan produksi.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah menyalurkan air bersih menggunakan mobil tangki ke sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan air, khususnya Kecamatan Sambutan dan Palaran.
Distribusi dilakukan ke berbagai titik, seperti masjid, fasilitas umum, sekolah hingga rumah warga yang memiliki tempat penampungan air.
Suwarso menegaskan, pemerintah saat ini memprioritaskan dua penanganan utama selama kondisi kekeringan, yakni pengendalian kebakaran lahan serta pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat.
“Jadi ada dua yang kita utamakan, yaitu penanganan kebakaran lahan dan penanganan untuk distribusi air bersih bagi lokasi yang kesulitan air bersih,” pungkasnya.

