Insitekaltim, Samarinda – Wacana Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi tuan rumah Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) IX 2027 mulai mengemuka setelah muncul kekhawatiran terhadap kesiapan Sulawesi Tengah (Sulteng), yang sebelumnya ditetapkan sebagai penyelenggara.
Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Nasional Kemalsyah Nasution mengungkapkan, kekhawatiran itu muncul menyusul kembali terjadinya gempa di Sulteng yang memunculkan trauma masyarakat setempat.
“Ketua KORMI Sulteng sudah curhat ke saya. Mereka juga ngeri kalau puluhan ribu orang datang ke sana, sementara masyarakat masih trauma karena gempa kembali terjadi,” ujar Kemalsyah saat Bincang Bugar, Selasa, 28 Juli 2026.
Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan mengenai perpindahan tuan rumah. Menurutnya, pergantian penyelenggara tidak bisa dilakukan secara sepihak karena harus mengikuti mekanisme organisasi.
“Kalau pindah tuan rumah harus ada surat permohonan dulu dari KORMI Sulteng. Setelah itu baru KORMI Nasional menyampaikan bahwa tuan rumah batal karena alasan tertentu, kemudian dibuka proses open bidding. Kalau Kaltim mau menjadi tuan rumah, silakan mengikuti mekanismenya,” tegasnya.
Kemalsyah menilai aspek terpenting dalam penyelenggaraan FORNAS bukan sekadar seremoni pembukaan maupun penutupan, melainkan kesiapan venue dan pelayanan terhadap para pegiat olahraga masyarakat.
Sekitar 70 persen peserta FORNAS berangkat menggunakan biaya pribadi sehingga tuan rumah harus memastikan fasilitas yang disediakan benar-benar layak.
“Mereka datang 70 persen pakai uang sendiri. Yang harus dipikirkan adalah venue-nya layak atau tidak. Mereka harus dihargai karena sudah datang jauh-jauh,” katanya.
Selain menjadi ajang olahraga masyarakat, FORNAS juga dinilai memiliki dampak ekonomi yang besar melalui sektor sport tourism. Kemalsyah mencontohkan penyelenggaraan FORNAS VIII di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2025 yang menurutnya memberikan efek ekonomi signifikan.
“NTB investasi sekitar Rp50 miliar untuk FORNAS, tetapi dampak ekonominya lebih dari Rp200 miliar. Jadi jangan bilang FORNAS tidak menguntungkan. Lebih dari 20 ribu orang datang ke NTB,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua KORMI Kaltim Adnan Faridhan menyebut peluang Kaltim menjadi tuan rumah cukup realistis apabila memang dibuka kembali proses pemilihan.
Pengalaman menjadi tuan rumah FORNAS pada 2019, ditambah berkembangnya infrastruktur olahraga di Kaltim, menjadi modal penting. Bahkan, kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai layak menjadi lokasi pelaksanaan.
“Kalau melihat waktunya, satu tahun sebenarnya masih realistis. Kaltim sudah pernah menjadi tuan rumah pada 2019. Infrastruktur sekarang juga jauh lebih siap, bahkan kalau terpilih kami ingin mencoba memanfaatkan venue di IKN,” kata Adnan.
Namun demikian, tantangan terbesar saat ini adalah keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi pemerintah yang turut berdampak pada pembinaan olahraga masyarakat.
“Permasalahan kita sekarang sebenarnya lebih kepada efisiensi anggaran. Semua sektor terdampak, termasuk olahraga,” ujarnya.

