Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Sering Minum Setelah Makan Malam? Perhatikan Dampaknya bagi Ginjal dan Tidur

    Oktober 4, 2026

    Keluhan BBM Berulang, Pemprov Kaltim Akan Turun Pantau Distribusi

    Oktober 4, 2026

    Penumpang Angkutan Kaltim Turun, Pergerakan Udara Domestik Susut Hampir 15 Persen

    Oktober 4, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Advertorial»DPRD Samarinda»Istilah Pendidikan Makin Keren tapi Masuk Sekolah Makin Susah
    DPRD Samarinda

    Istilah Pendidikan Makin Keren tapi Masuk Sekolah Makin Susah

    AminahBy AminahJuli 1, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar (Insitekaltim/Aminah)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Langkah pemerintah pusat yang gencar menggalakkan tiga pilar strategi pendidikan komprehensif yakni Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) mendapat kritik dari parlemen daerah.

    Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda Anhar menilai, introduksi berbagai nomenklatur baru dalam sistem pendidikan justru berbanding terbalik dengan realitas di lapangan, di mana masyarakat kian dipersulit untuk mengakses hak pendidikan dasar akibat kerumitan sistem penyeleksian.

    “Saya jujur, saya tidak mengerti istilah Sekolah Rakyat, karena pada dasarnya semua siswa yang ada sekarang ini adalah sekolah rakyat,” kritik Anhar saat dimintai tanggapan di DPRD Samarinda, Rabu, 1 Juli 2026.

    Beberadaan bangunan sekolah dasar yang konvensional saat ini sudah merepresentasikan wadah pendidikan bagi masyarakat luas, sehingga ia melihat pemerintah lebih terjebak pada narasi istilah semata.

    Legislator PDIP itu membandingkan efektivitas sistem pendidikan masa lalu dengan era digitalisasi saat ini, berbagai kluster pendaftaran yang diterapkan sekarang, seperti sistem zonasi, justru memicu gelombang protes dari para wali murid karena dianggap memutus kesempatan anak untuk bersekolah di dekat rumah mereka.

    “Sekarang orang mau sekolah saja susah. Dulu, orang mau sekolah ya tinggal sekolah saja; sistemnya jelas dan menampung semua anak,” ujarnya.

    Karut-marut ini terjadi karena para pengambil kebijakan di tingkat atas dinilai tidak memahami esensi kebutuhan riil di akar rumput. Berbagai istilah baru seperti Sekolah Garuda hingga istilah pelengkap lainnya dinilai hanya sekadar kosmetik agar terkesan modern tanpa diikuti perbaikan sistem dasar.

    “Banyak keluhan dari masyarakat yang merasa bukannya dipermudah, tetapi malah dipersulit,” tegas Anhar.

    Fakta di lapangan di mana ada calon siswa yang rumahnya persis di samping sekolah justru ditolak sistem, lalu terlempar ke sekolah lain yang jaraknya jauh. Baginya, kompleksitas formula sistem digital yang digulirkan pengambil kebijakan justru menjadi bumerang yang membingungkan instansi itu sendiri.

    Selain menyoroti akses masuk sekolah, Komisi IV DPRD Samarinda juga menguliti pilar Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Anhar menegaskan, konsep integrasi yang sesungguhnya harus diwujudkan dalam bentuk penyelarasan linear antara kurikulum pendidikan dengan ketersediaan lapangan kerja, bukan sekadar pelabelan status sekolah.

    Ia menyoroti rapor buram lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Perguruan Tinggi yang dinilai menyumbang angka pengangguran akibat kurikulum yang terlalu normatif dan gagap menghadapi tuntutan zaman yang dinamis.

    “Konsep terintegrasi itu seharusnya menyentuh substansi kurikulum yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan kondisi riil di lapangan,” cecarnya.

    Anhar menyayangkan kurikulum yang diterapkan saat ini masih bersifat normatif, konvensional, dan tidak memiliki daya saing global. Ia mencontohkan realitas di Universitas Mulawarman (Unmul) yang meluluskan ribuan mahasiswa setiap tahun, namun daerah maupun negara belum siap mengondisikan ke mana para sarjana tersebut akan terserap di dunia kerja.

    Oleh sebab itu, dewan mendesak pemerintah untuk melakukan kajian mendalam dengan membangun koordinasi lintas sektor yang melibatkan dunia usaha, pemerintah daerah, dan legislatif. Penyelarasan ini krusial agar output lembaga pendidikan tidak sekadar mencetak pengangguran baru.

    “Negara ini hanya sampai pada tahap membangun gedung yang bagus dan meningkatkan kualitas gurunya, tetapi setelah lulus, siswa dibiarkan berjuang sendiri mencari hidup,” pungkas Anhar.

     

    Anhar DPRD Samarinda Pendidikan Sekolah Garuda
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Aminah

    Related Posts

    DPRD Samarinda Belum Terima Update Progres SLF Terowongan

    Oktober 1, 2026

    Dukungan APBN 2027 untuk Transportasi Massal Samarinda Masuk Finalisasi

    Oktober 1, 2026

    Penggiat Reklame Keluhkan Perizinan, Pansus Raperda Reklame Samarinda Siap Tindaklanjuti

    September 30, 2026

    Gratispol Pendidikan dan Kesehatan Jadi Sorotan, Arah Pembangunan SDM Kaltim Dapat Pengakuan Nasional

    September 26, 2026

    APBD Perubahan Samarinda Rp3,75 Triliun, Raperda Ditarget Paripurna 30 September

    September 25, 2026

    Hadapi Hoaks dan AI, Literasi Informasi Jadi Tantangan Pendidikan di Era Digital

    September 24, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Sering Minum Setelah Makan Malam? Perhatikan Dampaknya bagi Ginjal dan Tidur

    AminahOktober 4, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Apa yang diminum setelah makan malam sering dianggap sepele. Padahal, pilihan minuman…

    Keluhan BBM Berulang, Pemprov Kaltim Akan Turun Pantau Distribusi

    Oktober 4, 2026

    Penumpang Angkutan Kaltim Turun, Pergerakan Udara Domestik Susut Hampir 15 Persen

    Oktober 4, 2026

    Ketika Hutan Rusak, Dampaknya Tak Berhenti pada Hilangnya Pohon

    Oktober 3, 2026

    Harga Pertamax Naik, Pekerja di Samarinda Kurangi Pulang ke Marangkayu

    Oktober 3, 2026
    1 2 3 … 3,373 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.